Tidak semua kisah lari diawali dengan ambisi besar. Terkadang hal tersebut bisa saja datang karena hal tak terduga dan tak diinginkan setiap orang, patah hati contohnya. Itulah yang dialami oleh seorang pemuda asal Bogor, Jawa Barat. Lari bisa jadi ‘pelarian’ positif untuk menghapus kesedihannya. Yuk, simak kisah dan profil Jiu Aditya yang berhasil bangkit dari patah hati dan mengubahnya jadi prestasi.
Trail Run adalah Pelarian Patah Hati Terbaiknya

Perjalanan awal Jiu mengenal dunia lari dimulai pada bulan Oktober 2023. Tak mau berlarut dalam kesedihan karena patah hati, ia pun memutuskan untuk berlari sebagai cara mengalihkan pikiran. Awalnya hanya mencoba trail run, menikmati trek tanah dan suasana alam yang menenangkan.
Namun seiring berjalannya waktu, ia pun mulai mengenal lari di jalan, yang perlahan menjadi bagian dari rutinitas mingguannya. “Sekarang diimbangi, seminggu kadang road kadang trail,” ujarnya.
Perpaduan kedua jalur ini bukan hanya membuatnya berkembang sebagai pelari, tetapi juga membentuk kedekatannya dengan olahraga yang kini menjadi tempatnya menemukan ritme hidup baru.
Baca juga: Apa Itu Trail Running: Pengertian, Ciri Khas, dan Tips Mengikutinya
Midsole Sepatu Terbelah hingga Ngos-Ngosan di Race Perdana

Meski baru mengenal dunia lari dalam waktu yang relatif singkat, Jiu sudah mengaku mengalami berbagai pengalaman. Mulai dari yang lucu, hingga penuh pelajaran berharga. Salah satunya adalah ketika ia datang latihan lari di Bogor tanpa pengetahuan dasar soal sepatu yang tepat.
Saat itu, dia mulai latihan memakai sepatu olahraga biasa dan baru setengah perjalanan, midsole sepatunya terbelah dua. “Kepisah jadi dua,” kenangnya sambil tertawa.
Momen lainnya datang dari race pertamanya, saat ia memulai dengan kecepatan tinggi karena mengira itu akan mempercepat dirinya tiba di garis finish. Hasilnya justru sebaliknya, tenaganya habis yang bikin ngos-ngosan, bahkan jadi peserta paling lambat mencapai garis akhir.
Namun justru di situlah pembelajarannya dimulai. Jiu mulai memahami pentingnya strategi, manajemen energi, dan ritme tubuh. Sejak itu, setiap langkah yang ia tempuh menjadi bagian dari proses yang ia nikmati.
Baca juga: Jenis-Jenis Sepatu Lari, Mana yang cocok untuk Kamu?
Lari sebagai Gaya Hidup

Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, Jiu sudah mengikuti sejumlah event yang memperkaya pengalamannya. Beberapa di antaranya adalah 5K Milo Active Race 2024, 6K Salak Eco Trail 2024, 10K IPB Half Marathon 2024, hingga 21K IPB Half Marathon 2025, dan 21K BTN Marathon 2025.
Dengan semakin bertambahnya jam terbang, pandangannya tentang lari pun perlahan mulai berubah. “Awalnya olahraga, tapi makin ke sini lari itu gaya hidup,” ujarnya. Ia menyadari bahwa dunia lari kini berkembang menjadi kultur tersendiri, lengkap dengan outfit, aksesori, hingga perlengkapan penunjang yang harganya tidak murah.
Namun baginya, itu bukan beban, melainkan bagian dari ekosistem lari yang membuatnya semakin terhubung dengan sesama pelari. Bergabung dengan JETE Squad Runners (sebuah komunitas lari yang diinisiasi oleh brand JETE Indonesia) juga menjadi turning point penting, komunitas yang tidak hanya memberi dukungan moral, tetapi juga fasilitas dan perlengkapan yang membuatnya lebih percaya diri untuk berkembang.
Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Lari, dari Jarak Pendek Hingga Jauh
Lawan Rasa Malas saat Berlatih

Saat bicara tentang prestasi, Jiu memilih melihatnya dari sisi yang lebih personal. Baginya, prestasi bukan semata soal podium atau catatan waktu tertentu, tetapi soal kemenangan kecil yang ia raih setiap hari.
“Menang melawan kemageran, menang melawan kemalasan, itu prestasi,” katanya. Perspektif sederhana ini membuatnya tetap rendah hati namun konsisten dalam berlatih. Untuk para pemula yang ingin mulai berlari, Jiu punya pesan yang relevan dan membumi. “Tetap semangat, tetap latihan, jangan terburu-buru pengen pace kecil. Intinya konsisten.”
Ia ingin setiap orang merasakan betapa lari dapat menjadi ruang refleksi, tempat berdamai, dan cara membangun kedisiplinan diri. Karena pada akhirnya, lari bukan hanya aktivitas fisik semata, namun lebih kepada suatu perjalanan menemukan diri sendiri, satu langkah setiap harinya.
