London Marathon 2026 akan selalu dikenang sebagai race ketika batas dua jam akhirnya berhasil ditembus dalam kompetisi resmi. Namun di balik momen besar itu, ada kisah lain yang nyaris tenggelam dari sorotan media. Yakni kisah dan profil Yomif Kejelcha yang justru menjalani debut marathon luar biasa di race tersebut dan langsung mencatatkan rekor sejarah baru di ajang lari jarak jauh.
Putus Sekolah demi Kejar Prestasi Lari

Yomif Kejelcha lahir di kota Showa, Ethiopia pada 1 Agustus 1997. Ia merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara. Seperti halnya anak-anak di negaranya, ia hidup dalam aktivitas yang memerlukan kondisi fisik dengan stamina tinggi. Salah satunya adalah berlari saat bersekolah dan lainnya.
Namun, bicara tentang sekolahnya Kejelcha membuat keputusan yang kontroversial saat itu. Memasuki kelas sembilan, ia memutuskan untuk berhenti sekolah demi mengejar impian prestasinya di dunia lari. Hal tersebut tentu saja ditentang oleh ayahnya yang menginginkannya tetap di bangku sekolah. Sampai pada akhirnya ia pun diusir dari rumah.
Setelah itu, ia pun bergabung dengan klub bernama Burayu Kenema dan pindah di kawasan pinggiran ibukota Addis Ababa untuk berlatih. Tak menyiakan kesempatan, dirinya terus berprestasi. Saat usianya menginjak 15 tahun pada tahun 2013 berhasil menyabet gelar juara di World U18 3000m. Karirnya terus menanjak hingga membawanya ke panggung Olimpiade Tokyo 2020 dan menempati nomor ke-8 kategori lari 10K.
Tak hanya itu saja, ia juga menyabet medali emas untuk lari indoor di nomor 3K di tahun 2016 dan 2018 saat mengikuti Nike Oregon Project dan dilatih Alberto Salazar. Di mana saat itu di project ini terdapat pula nama pelari besar yang ikut bergabung seperti Galen Rupp dan Sifan Hassan.
Baca juga: Profil Sabastian Sawe: Sang Pemecah Rekor Lari Marathon Tercepat Saat Ini
Catatkan Rekor Half Marathon

Selang beberapa tahun belakang kemudian, Kejelcha terus menempa dirinya dalam dunia lari. Ia membuktikan diri sebagai yang terbaik pada ajang Valencia Half Marathon 2024. Event yang digelar pada 27 Oktober 2024 tersebut ia berhasil mencatatkan waktu terbaiknya di angka 57:30. Catatan waktu itu yang membawanya sebagai pencetak rekor sejarah baru half marathon yang sebelumnya diraih oleh Jacob Kiplimo.
Selang setahun kemudian, ia memberanikan diri terjun ke kategori Full Marathon. Ini memang menarik, mengingat sebagian besar pelari jarak jauh biasanya menjalani transisi ke marathon secara bertahap. Mereka memulai dengan debut di kisaran waktu aman, mempelajari bagaimana rasanya menghadapi 42,2 kilometer, lalu perlahan memburu catatan waktu yang lebih besar. Namun, Kejelcha memilih jalan berbeda.
Memasuki musim dingin 2025/2026, ia menjalani program latihan marathon penuh dengan total latihan mencapai 120 hingga 140 kilometer per minggu. Ia berlatih bersama beberapa pelari elite seperti Telahun Haile Bekele, Hagos Gebrhiwet, dan Birhanu Balew. Tak tanggung-tanggung, debut marathonnya langsung di event ternama dunia yakni London Marathon 2026.
Baca juga: Profil Tigst Assefa: Catat Sejarah Rekor Marathon Dunia Kategori Wanita
Debut Marathon yang Menyita Perhatian

London Marathon pada akhir April 2026 lalu merupakan gelaran yang menyita perhatian publik. Bagaimana tidak, dalam satu ajang perlombaan dua orang pelari menembus batas yang selama ini dianggap mustahil dalam lari jarak jauh. Batas maksimal dua jam pun runtuh di ajang ini.
Sabastian Sawe mencatatkan waktu terbaik dan finish pertama dengan 1 jam 59 menit 30 detik. Sementara itu, Kejelcha menempati posisi runner-up dengan catatan waktunya 1 jam 59 menit 41 detik. Meski debutan, ia benar-benar menyita perhatian di dunia lari berkat prestasinya.
Nama lain yang juga mencatatkan rekor waktu tercepat adalah Jacob Kiplimo yang berhasil menempati urutan ketiga dengan waktu 2 jam 00 menit 28 detik. Catatan itu juga lebih cepat dibandingkan rekor dunia sebelumnya yang diukir oleh mendiang Kelvin Kiptum di tahun 2023 dengan waktu 2:00:35.
Sepanjang London Marathon 2026, Yomif Kejelcha terus bertahan di grup terdepan dengan pace yang sangat agresif. Setelah Jacob Kiplimo mulai tertinggal di sekitar kilometer 30, persaingan kemenangan hanya menyisakan Kejelcha dan Sabastian Sawe. Keduanya terus berlari berdampingan hingga sekitar kilometer 37 sebelum Sawe melakukan akselerasi penentu. Kejelcha memang tidak mampu mengikutinya, tetapi ia tetap menjaga ritme dan finish hanya 11 detik di belakang Sawe.
Baca juga: Profil Kelvin Kiptum: Calon Raja Marathon Dunia yang Pergi Terlalu Cepat
Nyaris Tenggelam dari Sorotan

Salah satu hal paling menarik dari kisah Yomif Kejelcha di London Marathon adalah bagaimana olahraga terkadang berjalan tidak sepenuhnya adil dalam soal perhatian publik. Di race lain, catatan waktu 1:59:41 mungkin sudah cukup untuk membuat seorang atlet dikenang bertahun-tahun. Namun di London Marathon 2026, performa luar biasa itu justru terasa seperti sekadar bagian dari cerita besar milik orang lain.
Beberapa media internasional bahkan menggambarkan Kejelcha sebagai atlet yang “membuat sejarah tetapi mungkin tidak akan benar-benar diingat.” Bukan karena performanya kurang hebat, melainkan karena sejarah biasanya lebih fokus kepada siapa yang finish pertama.
Meski begitu, debut Kejelcha tetap mengubah posisinya di dunia marathon. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai pelari track atau half marathon elite, tetapi juga sebagai salah satu marathoner tercepat di era modern.

