Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika ingin mengadakan event lari, terutama bagi para penyelenggara. Salah satu yang paling utama adalah urusan medis dan pertolongan pertama. Mengapa peran P3K dalam event lari sangatlah penting? Apa saja yang harus dipahami oleh penyelenggara acara maupun para peserta agar berjalan baik? Simak ulasan selengkapnya berikut ini!
Kenali Risiko yang Sering Dialami Para Pelari

Para pelari, baik pemula maupun berpengalaman, memiliki risiko cedera yang muncul dari berbagai faktor. Mulai dari kondisi fisik, cuaca, intensitas latihan, hingga situasi di lapangan saat event berlangsung. Cedera yang paling sering terjadi adalah kram otot, ankle sprain, lecet akibat gesekan, serta cedera otot akibat penggunaan berlebihan.
Pada jarak jauh, risiko dehidrasi dan kelelahan ekstrem juga meningkat, terutama ketika pelari kurang mengatur hidrasi dan asupan elektrolit. Cuaca panas membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan, sementara rute yang menanjak atau tidak rata memperbesar risiko cedera kaki.
Selain cedera otot dan sendi, pelari juga berpotensi mengalami overheating atau bahkan heatstroke jika tidak mampu mengatur ritme dan intensitas lari dengan baik. Pada beberapa kasus, pelari tiba-tiba merasa pusing, mual, hingga kehilangan keseimbangan akibat turunnya tekanan darah setelah berlari terlalu cepat tanpa pemanasan yang baik.
Kondisi seperti ini bisa berkembang menjadi situasi darurat jika tidak segera ditangani. Karena itu, memahami risiko yang umum dialami pelari membantu peserta lebih waspada, menyiapkan strategi pencegahan, dan menjalani event dengan lebih aman.
Baca juga: 7 Gerakan Pemanasan Sebelum Lari Agar Terhindar dari Cedera!
Teknik Dasar P3K dalam Event Lari dan Peran Tenaga Medis

Berdasarkan panduan Palang Merah Internasional, teknik dasar P3K dalam event lari berfokus pada stabilisasi kondisi korban dan mencegah cedera bertambah parah sebelum perawatan lanjutan diberikan.
Untuk cedera otot atau pergelangan kaki, pendekatan RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) tetap menjadi standar utama. Pada pelari yang mengalami kram, ditekankan pada pentingnya peregangan perlahan dan hidrasi bertahap.
Sementara itu, untuk kasus overheating, langkah pertama adalah memindahkan pelari ke tempat teduh, mengompres tubuh dengan air dingin, serta memberikan cairan secara perlahan untuk menurunkan suhu tubuh.
Saat pelari pingsan, penolong harus memeriksa respons, menjaga jalan napas tetap terbuka, dan memposisikan tubuh dengan benar sambil menunggu bantuan datang. Prinsip utamanya tetap tenang, lakukan tindakan yang aman bagi korban, dan tidak memaksakan penanganan di luar kemampuan penolong.
Di sisi lain, peran tenaga medis dalam event lari jauh lebih luas daripada sekadar memberikan perawatan saat insiden terjadi. Tim medis yang umumnya terdiri dari perawat, paramedis, dan dokter ditempatkan di berbagai titik strategis sepanjang rute untuk memastikan respon cepat terhadap setiap laporan cedera.
Mereka melakukan triase di lapangan, menentukan apakah cedera cukup ditangani di lokasi atau memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan. Sebelum event dimulai, tenaga medis juga terlibat dalam perencanaan keselamatan, pengecekan peralatan, briefing volunteer, serta memastikan bahwa jalur evakuasi berjalan efektif.
Baca juga: Hindari Cedera, Ini 7 Tips dan Cara Lari yang Benar Bagi Pemula
Persiapan yang Baik adalah Kunci

Sebaik apapun persiapan event lari, satu hal yang paling penting adalah pencegahan menjadi cara terbaik untuk meminimalisir risiko saat cedera. Persiapan sederhana memiliki pengaruh besar bagi para peserta, begitu pula dengan penyelenggara acara.
Bagi peserta, persiapan diawali dengan menjaga kondisi tubuh tetap prima dan menjaga progres latihan, mengatur pola makan, istirahat, hingga menjaga asupan elektrolit dalam tubuh.
Di sisi lain, bagi para penyelenggara masalah pertolongan pertama adalah hal wajib yang harus diperhatikan. Di antaranya adalah dengan memasang pos-pos medis di lintasan. Begitu pun dengan kesiapan lanjutan seperti ambulans dan pastikan lokasi diselenggarakannya event tidak jauh dari rumah sakit atau fasilitas medis utama.
Maka dari itu, sebaik apa pun persiapan, kondisi darurat tetap bisa terjadi. Karena itu, pemahaman P3K penting tidak hanya bagi volunteer atau penyelenggara tetapi juga peserta event.
Baca juga: Jangan Anggap Remeh! ini 7 Bahaya Cedera Akibat Sepatu Lari Usang
Penutup

Nah, setidaknya itulah peran penting P3K dalam event lari. Dengan kesiapan yang matang, terutama dalam hal medis, menjadikan para pelari maupun penyelenggara menjadi lebih tenang saat menjalani race. Ingin tahu secara mendalam mengenai penanganan darurat yang tepat dari ahlinya? Salah satunya kamu bisa dengan daftar akper atau sekolah akademi perawat.
Di sini, kamu akan diajarkan berbagai pola penanganan dengan tepat sasaran. Terutama mengenai cedera yang dihadapi oleh pelari. Dengan begitu, dapat menghindari risiko cedera dan kesehatan lebih lanjut. Selain itu, dengan adanya tenaga perawat yang berpengalaman dan tersertifikasi, membuat event lari terlihat profesional. Terutama dalam event berskala besar nasional dan internasional.
