sc: GPT Image AI Generator

Komunitas Lari Pace Sweat Culture: Estafet 100K untuk Misi Kemanusiaan

by Editor Jadwal Lari  - January 26, 2026

Komunitas tidak hanya menjadi wadah bagi pelari untuk mengenal satu sama lain dan berlatih bersama. Lebih dari itu, juga bisa menjadi bagian dalam membangun hal positif dan kepedulian terhadap sesama. Hal tersebut dilakukan oleh komunitas lari Pace Sweat Culture yang menggelar lari estafet 100K untuk misi kemanusiaan. Bagaimana kisah perjalanan inspiratif komunitas ini? Yuk, simak selengkapnya!

Ingin Bangun Budaya Lari yang Inklusif

Komunitas Lari Pace Sweat Runner - Ingin Bangun Budaya Lari yang Inklusif
sc: Pace Sweat Culture

Pace Sweat Culture lahir di akhir tahun 2024 dari aktivitas sederhana, yakni beberapa orang yang mulai rutin berlari bersama Jember dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang ingin menurunkan berat badan, ada yang bermimpi mengikuti marathon, dan ada pula yang sekadar ingin hidup lebih sehat.

Inspirasi komunitas ini datang ketika salah satu inisiator, Bilva, berkunjung ke Bandung dan merasakan langsung hangatnya budaya komunitas lari di sana. Sapaan ramah antar pelari, kebiasaan bertegur sapa saat berpapasan, hingga berbagai aktivasi kreatif di luar sesi lari menjadi pengalaman yang membuka wawasan. Dari proses “riset” kecil inilah muncul ide untuk menghadirkan komunitas lari dengan konsep serupa di Jember.

Nama Pace Sweat Culture (PSC) dipilih bukan tanpa makna. “Pace” dan “Sweat” merepresentasikan identitas sebagai pelari, sementara “Culture” menjadi simbol cita-cita membangun budaya baru: budaya lari yang inklusif, saling menghargai, mengikuti tren gaya hidup masa kini, dan menjadikan lari sebagai kebiasaan yang menyenangkan, bukan kewajiban yang membosankan.

Baca juga: Komunitas Lari Jember Runners: dari Anak-Anak hingga Dewasa, Bisa Gabung!

‘Melarikan Diri’ dengan Suasana Pedesaan

Komunitas Lari Pace Sweat Runner - Melarikan Diri dengan Suasana Pedesaan
sc: Pace Sweat Culture

PSC dikenal dengan tagline unik #larilanjutngopi, sebuah konsep yang menggabungkan olahraga dan budaya nongkrong. Setiap Jumat malam dan Minggu pagi, anggota PSC rutin berlari sejauh 5 kilometer, lalu melanjutkan dengan ngopi bareng di berbagai kedai kopi dan seringnya dilakukan dengan berpindah-pindah lokasi.

Tak hanya aktivitas mingguan, PSC juga aktif menyelenggarakan aktivitas lari rutin lainnya. Dua aktivitas rutin utama mereka adalah “Melarikan Diri” dan “Ritual”.

Melarikan Diri merupakan fun run yang dikemas secara profesional, lengkap dengan BIB chip, cheering zone, serta rute rolling dengan suasana pedesaan. Event ini pertama kali digelar pada 2025 lalu dan direncanakan diselenggarakan kembali 2026 dengan penambahan kategori jarak.

Sementara Ritual menjadi ruang bagi pelari yang ingin merasakan pengalaman lari jarak jauh dengan konsep self support. Untuk aktivitas rutin ini sendiri terbagi dalam dua kategori  kategori, 30 km dan 60 km, dengan fokus pada keamanan peserta meski dengan embel-embel kemandirian.

Ada salah satu pengalaman paling berkesan bagi PSC, yakni tantangan spontan berlari dari Bondowoso ke Jember dengan menempuh jarak sekitar 35 kilometer. Berbekal persiapan yang minim dan sebagian peserta baru empat bulan rutin berlari, mereka berhasil menyelesaikan tantangan tersebut berbekal semangat dan anggota komunitas yang saling support.

Baca juga: Apa Itu Trail Running: Pengertian, Ciri Khas, dan Tips Mengikutinya

Anggota yang Penuh Cerita Inspiratif

Komunitas Lari Pace Sweat Runner - Anggota yang Penuh Cerita Inspiratif 
sc: Instagram/Pace Sweat Culture

Tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung dengan komunitas lari Pace Sweat Culture ini. Bagi yang berminat, cukup datang ke agenda lari rutin pada Jumat malam atau Minggu pagi, lalu bergabung ke grup WhatsApp komunitas.

Berkat suasana hangat dan tidak membedakan latar belakang, tercatat sampai Saat ini. PSC memiliki sekitar 140 anggota aktif di Jember dan tidak ada cabang komunitas di kota lainnya. Keberagaman latar belakang di grup ini bukanlah jadi kendala dan halangan, justru perbedaan inilah yang membuat komunitas jadi semakin banyak cerita inspiratif.

Bahkan, banyak anggota yang mengalami transformasi positif. Ada yang berhasil menurunkan berat badan, ada mantan perokok aktif yang akhirnya berhenti merokok setelah rutin berlari, hingga mereka yang berhasil menaklukkan target pribadi seperti 10K, half marathon, bahkan ultra run. Bagi PSC, setiap anggota memiliki tujuan masing-masing dan komunitas hadir untuk mendukung perjalanan tersebut tanpa paksaan.

Baca juga:  7+ Cara Konsisten Lari, dari Niat Sampai Jadi Rutinitas

Lari Estafet 100K untuk Kemanusiaan

Komunitas Lari Pace Sweat Runner - Lari Estafet 100K untuk Kemanusiaan
sc: Pace Sweat Culture

Aktivitas rutin PSC tidak hanya sekadar berlari untuk menjaga tubuh tetap sehat, di sisi lain juga menggelar aksi kemanusiaan untuk berbagi dengan sesama. Salah satu aksi sosial yang berhasil mereka selenggarakan adalah lari estafet 100 kilometer bertajuk “Hulu Hilir” untuk penggalangan dana dalam membantu korban banjir di Sumatera. Nama Hulu Hilir dipilih dengan filosofi kuat, bencana datang dari atas ke bawah, dan mereka ingin membawa kebaikan dari hulu ke hilir.

Ide aksi sosial ini tercetus dari sebuah keresahan sederhana pada anggota komunitas, yakni Setelah banyak melakukan aktivitas bersenang-senang, mereka merasa perlu memberi dampak nyata bagi sesama. Dengan target donasi 100 juta rupiah, PSC berlari dari kawasan Paltuding Camping Ground, Ijen, menuju Alun-alun Jember dengan jarak tempuh 100 kilometer.

Sebanyak delapan pelari terpilih mengikuti aksi sosial ini. Mayoritas pelari yang ikut sudah berpengalaman marathon dan rutin berlari lebih dari setahun. Seolah gayung bersambut, dukungan untuk aksi tersebut pun datang dari berbagai pihak, mulai dari brand apparel, fisioterapis, hingga donatur pribadi. Tanpa persiapan yang terlalu ribet, mereka mengandalkan keyakinan, solidaritas, dan semangat bersama untuk menyelesaikan misi kemanusiaan ini.

Baca juga: Mengenal Tempo Run, Kunci Lari Lebih Cepat dan Jauh!

Targetkan Event Lari Kreatif Mandiri

Komunitas Lari Pace Sweat Runner - Targetkan Event Lari Kreatif Mandiri
sc: Instagram/Pace Sweat Culture

Pace Sweat Culture memiliki visi ke depan untuk turut serta dalam membangun ekosistem lari dengan menargetkan tiga hal utama. Pertama, menginisiasi event lari kreatif yang mandiri. Kedua, mengedukasi masyarakat bahwa lari adalah gaya hidup. Ketiga, memperluas kolaborasi dengan berbagai bidang kreatif.

Bagi mereka yang masih ragu memulai lari, PSC punya pesan sederhana: mulai saja. Tidak perlu langsung berlari kencang, jalan kaki pun tak menjadi masalah. Dari jalan kaki itu kemudian berlanjut ke jogging, hingga akhirnya mampu berlari dengan nyaman.

Di PSC, kami adalah tempat bagi siapa saja yang ingin sehat dengan cara yang seru, happy, dan tidak memaksakan,” ujar perwakilan komunitas.

Harapan terbesar komunitas lari Pace Sweat Culture adalah menjadikan lari sebagai budaya yang menyatukan banyak kalangan, meningkatkan kesadaran kesehatan fisik dan mental, serta menghadirkan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Karena bagi komunitas,  berlari bukan sekadar olahraga melainkan perjalanan membangun kebiasaan, pertemanan, dan makna.

Komunitas Jadwal Lari

Profil Luthfi Nur Azam: Suka Lari karena Takut Obesitas, Kini Jadi Rutinitas
Treadmill vs Walking Pad: Mana yang Lebih Cocok untuk Gaya Hidup Aktif di Rumah?

Artikel Lainnya Seputar Lari

February 7, 2026

February 5, 2026