Berhasil menaklukkan marathon di ajang bergengsi Abbott World Marathon Majors (WMM) adalah impian bagi para marathoner. Apalagi menyelesaikan gelaran prestisius di enam kotanya yakni Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, dan New York.
Di rubrik kali ini, kita akan membahas profil Namira Adjani Ramadina yang sukses menyelesaikan keenam marathonnya dan menyandang predikat sebagai “Indonesia’s Youngest Female Six Star Finisher”. Yuk, simak perjalanan larinya yang penuh inspirasi ini!
Terinspirasi dari Sang Ibu

Perkenalan Adjani dengan olahraga ini sebenarnya berawal dari masa yang cukup sulit. Dengan kata lain, dia tidak langsung jatuh cinta dengan lari dan menjadikannya sebagai olahraga favorit pilihannya.
“Dulu hubungan aku dengan makanan kurang baik,” kisahnya. Atas saran profesional, ia diminta menemukan olahraga yang bisa dilakukan secara rutin untuk membantu mengubah cara pandangnya terhadap tubuh dan makanan.
Lari menjadi jembatan menuju pemulihan itu. “Aku disarankan mencari olahraga yang bisa membuatku berpikir bahwa tubuh ini butuh energi untuk bergerak, bukan menahan diri untuk terlihat kurus,” ujarnya.
Tak hanya itu, inspirasi larinya datang dari sosok terdekat yakni ibunya, yang juga seorang pelari sekaligus marathoner. Dari situlah, pada tahun 2017, Adjani mulai ikut berlari bersama sang ibu. “Sejak itu aku jatuh cinta dengan lari, dan Alhamdulillah sampai sekarang masih rajin berlari,” katanya.
Baca juga: Program Latihan Lari Efektif: Panduan Lengkap untuk Semua Level
Disiplin Adalah Kunci

Prestasi Adjani dalam mengikuti marathon bukan tanpa dibarengi latihan keras. Jadwal latihannya bergantung pada program yang sedang dijalani. Untuk persiapan full marathon 42,2 km, ia biasanya berlari 3-4 kali seminggu dengan total 30-50 km, disertai sesi speed run, easy run, dan long run.
Tak hanya itu, ia juga rutin melakukan strength training 1-2 kali per minggu. “Tujuannya supaya otot kaki lebih kuat dan terhindar dari cedera,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya istirahat dan asupan makanan. “Istirahat itu bagian dari latihan. Dan menjelang long run, biasanya aku harus carbo loading dulu biar punya energi yang cukup.”
Rutinitas latihan yang ketat terkadang membuatnya juga pernah merasa malas dan jenuh. Saat hal itu tiba, ia memiliki pengingat bagi dirinya sendiri.
“Aku biasanya mengingatkan diri sendiri bahwa ini pilihanku. Jadi aku harus tanggung jawab dan disiplin,” ungkapnya. Selain itu, ia menemukan semangat baru dari komunitas. Dengan bertemu dan latihan bersama komunitas ia merasa tidak sendiri.
Baca juga: Intip Rahasia Tapering Marathon: Strategi Jitu Menuju Garis Finish
Raih Predikat Indonesia’s Youngest Female Six Star Finisher

Menjadi wanita termuda Indonesia yang meraih Six Star Finisher WMM tak pernah menjadi target awal Adjani. Namun ketika akhirnya gelar itu datang, rasa syukur dan haru pun berbaur menjadi satu dalam dirinya.
“Awalnya aku nggak menargetkan jadi yang termuda. Tapi aku bangga banget karena latihan marathon itu nggak mudah. Nggak ada jalan pintas semua butuh komitmen dan disiplin. Bonusnya adalah selalu PB dengan happy dan healthy” katanya.
Melansir dari laman resmi World Marathon Majors dalam “Six Star Hall of Fame”-nya, nama Namira Adjani mencatatkan waktu terbaik di enam gelaran marathon sebagai berikut:
- London (2022): 5:20:32
- Tokyo (2023): 4:47:35
- Berlin (2023): 4:45:05
- Chicago (2024): 4:17:55
- New York City (2025): 3:59:25
- Boston (2025): 4:10:42
Adjani menyebut, keberhasilannya bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tapi juga dukungan dari orang-orang di sekitarnya. “Aku bisa sampai di titik ini karena dukungan keluarga, teman, dan komunitas lari. We’re in this together,” ujarnya.
Baca juga: 7 Event Marathon Terbesar di Dunia, Mana Sajakah?
Momen Berkesan di London dan Boston Marathon

Setiap marathon memiliki cerita tersendiri bagi Adjani. Namun, ada dua event paling berkesan adalah London Marathon 2022 dan Boston Marathon 2025. London menjadi virgin marathonnya, dan pengalaman itu membekas hingga kini.
“Kota yang cantik, crowd yang luar biasa, cheeringnya juga rame, dan perasaan pertama kali menyeberangi garis finish setelah 42 km itu, sulit dijelaskan. Aku sangat bahagia,” kenangnya.
Sementara Boston Marathon menjadi event paling prestisius dan memberikan tantangan berbeda. Mengingat event ini adalah marathon paling tua di dunia, bahkan saat ia mengikutinya, gelaran tersebut sudah yang ke-129.
“Track-nya sangat hilly (berbukit), dan ada tanjakan terkenal, Heartbreak Hill. Untuk bisa siap, aku harus sering latihan long run di Sentul,” ujarnya. Meski melelahkan, momen finish di Boylston Street membuatnya merinding. “Vibenya luar biasa, sangat mengharukan.”
Dari semua pencapaiannya, salah satu yang paling membanggakan adalah berhasil menyelesaikan New York Marathon dengan waktu sub-4 (3 jam 59 menit 25 detik). “Bisa menjaga konsistensi dan disiplin sampai finish strong adalah hal yang paling aku syukuri,” tuturnya.
Baca juga: Sejarah, Rute, dan Semua Hal Tentang Boston Marathon yang Wajib Kamu Tahu!
Optimisme Terhadap Dunia Lari di Tanah Air

Melihat perkembangan dunia lari di Indonesia, Adjani merasa optimistis. Ia menyaksikan sendiri bagaimana komunitas pelari kini tumbuh pesat, terutama di kalangan muda. Menurutnya, komunitas adalah wadah untuk terus berkembang dan memberi semangat untuk terus bergerak.
“Saat aku mulai dulu di tahun 2017, komunitas lari belum sebesar sekarang. Sekarang, makin banyak anak muda yang aware soal kesehatan, dan event lari juga makin banyak dan tertata rapi,” ungkapannya.
Ia berharap perkembangan positif ini terus berlanjut. “Semoga makin banyak orang yang mulai lari, baik untuk kesehatan atau prestasi. Yang penting latihan rutin, disiplin, dan konsisten,” pesannya.
Baca juga: 7 Gerakan Pemanasan Sebelum Lari Agar Terhindar dari Cedera!
Lari Sebagai Perjalanan Diri

Berbicara mengenai filosofi lari, memberikan makna yang mendalam. Bagi Adjani, berlari bukan sekadar olahraga tapi bentuk perjalanan diri. “ Filosofi berlari itu tentang konsistensi, kesabaran, dan menghargai proses,” ujarnya. Ia berpesan kepada pelari pemula agar tidak membandingkan diri dengan orang lain. Satu hal yang paling penting adalah, tak peduli berapa pace dan berapa.
“Take your time and focus on your own progress. Aku juga mulai dari 3 km, lalu 5, 10, 21, sampai akhirnya berani 42 km. Pace-ku dulu 8-9, sekarang bisa 5:41. Jadi sabar aja, nikmati prosesnya,” tutupnya dengan penuh semangat.
Dari setiap langkahnya, Namira Adjani membuktikan bahwa lari bisa menjadi cara untuk mengenal diri, menantang batas, dan menyebarkan semangat positif. Di setiap garis finish yang ia lewati, ada pesan kuat: bahwa konsistensi, ketulusan, dan cinta pada proses adalah kunci menuju pencapaian sejati.
