sc: GPT Image AI Generator

Profil Luthfi Nur Azam: Suka Lari karena Takut Obesitas, Kini Jadi Rutinitas

by Editor Jadwal Lari  - January 21, 2026

Di antara banyak kisah pelari rekreasional, cerita tentang tantangan 50K yang dijalani Luthfi Nur Azam menjadi salah satu yang menarik untuk disimak. Bukan karena keberhasilannya menuntaskan jarak ekstrem, justru kar

ena bagaimana sebuah ide spontan, persiapan minim, dan keputusan tak terduga justru melahirkan kisah yang terus diingat sekaligus jadi motivasi. Seperti apa perjalanannya? Yuk, simak profil Luthfi Nur Azam dalam artikel kali ini!

Mulai Lari karena Takut Obesitas

Profil Pelari Luthfi Nur Azam - Mulai Lari karena Takut Obesitas

Motivasi awal Luthfi untuk mulai berlari berangkat dari hal yang sangat personal, yakni perubahan berat badan yang meningkat. Pada masa pandemi 2020, ketika aktivitas dibatasi dan rutinitas banyak terhenti, ia merasa tubuhnya semakin jauh dari kondisi ideal. Walau tidak sampai pada tahap obesitas, hal itu membuatnya merasa tidak nyaman. Beberapa komentar dari orang sekitar yang menyebut ia terlihat lebih berisi, dan itu jadi pemicu pendukung untuk mulai berubah.

Pada awalnya, dirinya merasa belum ada semangat untuk memulai lari. Hingga suatu hari ada seorang teman yang mengajaknya mencoba. Dari ajakan sederhana itulah, Luthfi mulai membangun kebiasaan barunya untuk hidup lebih sehat. Lari yang awalnya sekadar upaya menurunkan berat badan perlahan berubah menjadi aktivitas yang ia nikmati sampai saat ini.

Baginya, lari juga menjadi ruang untuk mengenal diri sendiri, menguji konsistensi, sekaligus sarana keluar dari kejenuhan selama masa pembatasan sosial saat itu. Seperti halnya pelari rekreasional lainnya, Luthfi memulai langkahnya tanpa ambisi besar, cukup dengan niat bergerak lebih sehat dan menjaga tubuh tetap aktif.

Baca juga: 7+ Cara Konsisten Lari, dari Niat Sampai Jadi Rutinitas

Dari Sekadar Catatan Pribadi sampai Dikenal Banyak Pelari

Profil Pelari Luthfi Nur Azam - Dikenal Banyak Pelari

Seiring berjalannya waktu, aktivitas larinya kemudian berkembang ke arah yang tidak ia duga. Ia mulai mendokumentasikan sesi larinya dalam bentuk vlog video dan mengunggahnya ke media sosial. Bukan untuk mengejar popularitas, melainkan sebagai catatan pribadi. Namun dari unggahan-unggahan itulah, satu demi satu pelari lain mulai mengenal dirinya.

Lambat laun interaksi melalui kolom komentar berubah menjadi sebuah pertemanan hingga membangun jaringan sesama pelari. Tak hanya berinteraksi melalui dunia maya saja, Luthfi dan pelari lainnya pun mulai bertemu dan berlari bersama serta dari situlah terbentuk komunitas kecil-kecilan namun tidak resmi, hanya sekadar menjadi sekumpulan teman lari saja.

Jaringan pertemanan tersebut baginya menjadi nilai paling berharga, yakni dapat melebarkan dan memperluas pertemanan. Terlebih lagi dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda namun tetap satu tujuan untuk mencapai hidup sehat dengan berlari. Dari sini pula dirinya dikenal banyak pelari dan mulai tumbuh ide-ide untuk melakukan lari yang berbeda dari biasanya.

Baca juga: Biar Nggak Bingung! Kenali Penjelasan Istilah dalam Lari Berikut Ini!

Tantangan Lari 50K yang Tercetus dari Ide Spontan

Profil Pelari Luthfi Nur Azam - Tantangan Lari 50K

Salah satu momen paling diingat Luthfi terjadi adalah saat kota kelahirannya merayakan ulang tahun ke-500 sekian. Terinspirasi oleh angka perayaan tersebut, komunitasnya mulai membuat tantangan dari ide yang spontan, yakni berlari sejauh 50 kilometer lebih, menyesuaikan usia kota tersebut. Ide spontan ini pun muncul nyaris tanpa persiapan yang matang.

Tantangan pun dimulai, Luthfi bersama teman yang mengikutinya mulai lari sekitar pukul 17.00 WIB. Memasuki jarak 30 kilometer, waktu mulai gelap dan malam pun tiba. Jalur yang dilalui pun semakin sepi. Bahkan, dia dan harus menembus area hutan yang gelap dan terasa sunyi. Dari situ rasa lelah bercampur kekhawatiran mulai menghinggapinya. Saat itu pula akhirnya muncul ide untuk mencari tumpangan. Kelak, ide gila inilah yang jadi bahan bercandaan sesama komunitas larinya.


Setelah 5-7 kilometer ditempuh dengan menumpang kendaraan, maka tantangan secara otomatis mereka anggap gagal. Meski begitu, tidak ada penyesalan atas keputusan yang diambil. Justru dari kegagalan itulah lahir cerita konyol yang terus dikenang. Bagi Luthfi, pengalaman ini mengajarkan bahwa tidak semua tantangan harus berakhir sempurna. Kadang, nilai utama terletak pada proses dan kebersamaan.

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Lari, dari Jarak Pendek Hingga Jauh

Buat Target Lari yang Realistis

Profil Pelari Luthfi Nur Azam - Buat Target Lari yang Realistis

Tantangan lari 50 kilometer selain mengajarkan pada proses, baginya juga mengajarkan tentang bagaimana memulai sesuatu harus dengan rencana yang matang. Memasang target memang penting, namun yang perlu diingat adalah menjaga target tersebut agar tetap realistis. Luthfi tidak hanya terpaku pada pace sebagai pelari rekreasional, tetapi lebih menikmati setiap langkah, tempat baru, dan rute berbeda.

Baginya, lari bukan hanya soal angka di jam tangan, melainkan tentang pengalaman. Setiap rute menyimpan cerita, setiap langkah memberi ruang refleksi. Prinsip inilah yang membuat ia bertahan hingga sekarang dan tidak tertekan oleh standar, tetapi konsisten karena menikmati proses.

Dari perjalanan lari Luthfi inilah kita menunjukkan jika lari adalah salah satu sarana untuk menambah pengalaman, teman baru, dan tentunya cerita kecil yang penuh kehangatan sekaligus memberikan motivasi. Ingin kenal lebih jauh dengan Luthfi? Follow akun Instagramnya di @luthfinurazam.

Peranan Lanyard dalam Kelancaran Event Lomba Marathon
Komunitas Lari Pace Sweat Culture: Estafet 100K untuk Misi Kemanusiaan

Artikel Lainnya Seputar Lari

February 7, 2026

February 5, 2026