sc: JETE
Sc: Aflo Images_アフロ(Aflo)

7 Kesalahan Pelari Pemula yang Sering Diabaikan, Padahal Bisa Berujung Cedera

by Yasmina Alda  - July 22, 2026

Sc: Aflo Images_アフロ(Aflo)

Memulai kebiasaan lari memang terlihat sederhana. Tinggal memakai sepatu, keluar rumah, lalu mulai berlari. Namun, kesalahan pelari pemula justru sering muncul karena banyak orang terlalu bersemangat di minggu-minggu pertama tanpa memahami bagaimana tubuh beradaptasi dengan latihan.

Padahal, perkembangan dalam lari bukan ditentukan oleh siapa yang berlari paling cepat sejak awal, melainkan siapa yang mampu berlatih secara konsisten tanpa cedera. Dengan memahami kesalahan yang umum terjadi, kamu bisa menikmati proses latihan lebih lama sekaligus meningkatkan performa secara bertahap. Simak!

Kesalahan Pelari Pemula yang Sebaiknya Dihindari

Kesalahan Pelari
Sc: Willians Huerta_Pexels

Banyak pelari baru berpikir bahwa semakin sering berlari, hasilnya akan semakin cepat terlihat. Kenyataannya, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan beban latihan baru. Otot, tendon, tulang, hingga sistem kardiovaskular memiliki kecepatan adaptasi yang berbeda.

Itulah sebabnya banyak pelari pemula mengalami nyeri lutut, betis, plantar fasciitis, atau bahkan harus berhenti latihan karena cedera akibat pola latihan yang kurang tepat. Kabar baiknya, sebagian besar masalah tersebut sebenarnya bisa dicegah dengan perubahan kebiasaan sederhana. Sebelum meningkatkan jarak atau kecepatan, ada baiknya memahami beberapa kebiasaan yang paling sering menghambat perkembangan pelari baru.

1. Terlalu semangat di awal latihan

Salah satu kesalahan pelari pemula yang paling sering terjadi adalah ingin berkembang secepat mungkin. Baru beberapa kali latihan, sudah mencoba lari setiap hari atau langsung mengejar jarak 10 kilometer. Padahal, tubuh membutuhkan waktu untuk membangun daya tahan. Jika intensitas latihan meningkat terlalu cepat, risiko cedera akibat penggunaan berlebihan (overuse injury) ikut meningkat.

Idealnya, mulailah dengan 2-3 sesi lari per minggu selama beberapa bulan pertama. Fokuslah membangun kebiasaan dan durasi berlari, bukan mengejar angka di aplikasi olahraga. Bila ingin menambah jarak tempuh, lakukan secara bertahap. Banyak pelatih juga menyarankan agar peningkatan volume latihan tidak lebih dari sekitar 10% setiap minggu agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.

2. Selalu berlari terlalu cepat

Banyak pelari baru merasa setiap sesi latihan harus dilakukan dengan kecepatan tinggi agar cepat berkembang. Padahal, sebagian besar latihan justru sebaiknya dilakukan dengan intensitas ringan. Cara paling mudah mengukurnya adalah menggunakan conversational pace. Selama berlari, kamu masih mampu berbicara dalam kalimat utuh tanpa terengah-engah.

Bila napas sudah terlalu berat hingga sulit berbicara, berarti tempo latihan perlu diturunkan. Lari dengan intensitas ringan membantu membangun kapasitas aerobik sekaligus mengurangi risiko cedera. Kecepatan akan meningkat dengan sendirinya ketika fondasi daya tahan sudah terbentuk.

Baca Juga: Cara Menjaga Konsistensi Latihan Lari di Tengah Padatnya Jadwal Kerja

Kesalahan Pelari Pemula
Sc: Maridav

3. Mengalami overtraining tanpa disadari

Overtraining pada pelari pemula sering kali berawal dari niat yang baik. Karena merasa tubuh masih kuat, jadwal latihan terus ditambah tanpa memberikan waktu pemulihan yang cukup. Tanda-tandanya bisa berupa tubuh selalu terasa lelah, performa menurun, detak jantung saat istirahat meningkat, sulit tidur, hingga otot yang terasa pegal berkepanjangan.

Ingat, proses peningkatan performa sebenarnya terjadi ketika tubuh beristirahat setelah latihan. Karena itu, jangan ragu menjadwalkan satu hingga dua hari recovery setiap minggu. Bila tubuh terasa sangat lelah atau muncul nyeri yang tidak biasa, lebih baik kurangi intensitas latihan daripada memaksakan diri.

4. Melewatkan pemanasan sebelum berlari

Masih banyak orang yang langsung mulai berlari begitu keluar rumah. Kebiasaan ini membuat otot dan sendi belum siap menerima beban latihan sehingga risiko cedera menjadi lebih besar. Sebelum mulai berlari, lakukan pemanasan dinamis selama sekitar lima hingga sepuluh menit. Berikut beberapa Contoh Dynamic Warm-Up untuk Pelari yang mudah dilakukan:

  • Leg swings depan-belakang dan samping
  • Hip circles
  • Walking lunges
  • High knees
  • Butt kicks
  • Arm swings
  • Jalan cepat dilanjutkan jogging ringan

5. Mengabaikan latihan kekuatan

Lari memang menjadi latihan utama, tetapi bukan satu-satunya latihan yang dibutuhkan tubuh. Banyak pelari pemula hanya fokus menambah jarak tanpa melatih kekuatan otot. Padahal, otot inti (core), glute, pinggul, paha, dan betis berperan besar menjaga stabilitas saat berlari. Otot yang kuat membantu memperbaiki postur, meningkatkan efisiensi langkah, sekaligus mengurangi tekanan berlebih pada lutut dan pergelangan kaki.

Baca Juga: 7 Tips Memilih Event Lari yang Sesuai, Jangan Asal Daftar!

Kesalahan Pada Pelari Pemula
Sc: RUN 4 FFWPU_Pexels

6. Kurang memperhatikan nutrisi dan hidrasi

Latihan yang baik akan terasa kurang maksimal bila tubuh tidak mendapatkan asupan yang cukup. Nutrisi untuk pelari pemula bukan hanya soal makan lebih banyak, tetapi juga memastikan kebutuhan energi dan pemulihan terpenuhi. Karbohidrat menjadi sumber energi utama sebelum latihan, sedangkan protein membantu memperbaiki jaringan otot setelah berlari.

Lemak sehat, vitamin, dan mineral juga tetap diperlukan untuk mendukung proses pemulihan. Selain makanan, jangan abaikan hidrasi. Kekurangan cairan dapat membuat tubuh lebih cepat lelah, sedangkan minum berlebihan dalam waktu singkat juga bukan pilihan yang tepat. Biasakan memenuhi kebutuhan cairan sepanjang hari, terutama sebelum dan setelah sesi latihan.

7. Tetap berlari meski tubuh memberi sinyal cedera

Tidak semua rasa sakit merupakan bagian dari proses latihan. Ada perbedaan antara pegal otot setelah berolahraga dengan nyeri tajam yang terus muncul ketika berlari. Jika rasa sakit hanya muncul di satu titik tertentu, semakin parah setiap latihan, atau tidak membaik setelah beristirahat, jangan memaksakan diri.

Berhenti sementara jauh lebih bijak dibanding harus beristirahat berminggu-minggu karena cedera yang semakin serius. Selama masa pemulihan, kamu masih bisa menjaga kebugaran melalui aktivitas berdampak rendah seperti bersepeda, berenang, atau menggunakan elliptical sampai kondisi benar-benar membaik.

Baca Juga: Tips Fueling Saat Lari Marathon agar Finish Lebih Cepat dan Stabil!

Pelari Pemula
Sc: sasint_pixabay

Penutup

Menjadi pelari yang lebih baik tidak selalu berarti berlari lebih jauh atau lebih cepat setiap minggu. Justru, menghindari kesalahan pelari pemula seperti di atas, akan membuat perkembanganmu lebih stabil. Dengan membangun fondasi yang benar sejak awal, tubuh akan beradaptasi lebih baik, risiko cedera berkurang, dan kamu bisa terus berlari secara konsisten.

7 Jenis Cedera Saat Lari yang Sering Terjadi Saat Race, Jangan Anggap Sepele!

Artikel Lainnya Seputar Lari

July 16, 2026