sc: JETE
Sc: ภาพของZzGooggiigz Tidarat

7 Jenis Cedera Saat Lari yang Sering Terjadi Saat Race, Jangan Anggap Sepele!

by Yasmina Alda  - July 20, 2026

Sc: ภาพของZzGooggiigz Tidarat

Berlari menjadi salah satu olahraga yang mudah dilakukan dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, seperti olahraga lainnya, lari juga memiliki risiko cedera, terutama jika latihan dilakukan tanpa persiapan yang baik atau memaksakan tubuh melebihi kemampuannya. Mengenali jenis cedera saat lari menjadi hal penting agar kamu bisa berlatih dengan lebih aman.

Cedera tidak hanya dialami oleh pelari pemula. Pelari berpengalaman bahkan peserta marathon juga bisa mengalaminya ketika intensitas latihan terlalu tinggi, teknik berlari kurang tepat, atau kondisi tubuh sedang tidak optimal. Dengan mengetahui penyebab dan gejalanya sejak awal, kamu dapat mengambil langkah penanganan yang tepat.Berikut adalah beberapa jenis cedera yang biasanya terjadi saat lari.

Jenis Cedera Saat Lari yang Paling Sering Dialami

Jenis Cedera Saat Lari
Sc: kittichai boonpong’s Images

Banyak orang mengira cedera hanya terjadi karena terjatuh atau salah pijakan. Padahal, sebagian besar cedera justru muncul secara bertahap akibat tekanan berulang pada otot, sendi, maupun tendon. Latihan yang meningkat terlalu cepat, kurang pemanasan, penggunaan sepatu yang sudah aus, hingga kurangnya waktu pemulihan dapat menjadi penyebab utamanya.

Selain itu, kondisi tubuh seperti dehidrasi, kelelahan otot, dan kekurangan elektrolit juga dapat memengaruhi performa saat berlari. Tidak heran jika cedera yang paling sering terjadi pada event lari umumnya muncul pada lomba jarak jauh ketika tubuh bekerja lebih keras dibandingkan dengan sesi latihan biasa. Berikut beberapa jenis cedera yang umum terjadi.

1. Runner’s Knee (Nyeri Tempurung Lutut)

Runner’s knee atau patellofemoral pain syndrome menjadi salah satu jenis cedera saat lari yang paling sering dialami pelari. Cedera ini biasanya ditandai dengan rasa nyeri di sekitar tempurung lutut, terutama saat naik turun tangga, jongkok, atau setelah berlari cukup lama. Penyebab utamanya adalah gerakan menekuk dan meluruskan lutut secara berulang sehingga meningkatkan tekanan pada sendi.

Jika kamu terus memaksakan diri untuk bergerak, rasa nyeri bisa bertambah parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan awal dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas latihan, mengompres area yang nyeri menggunakan es, serta memberi waktu istirahat hingga keluhan berkurang.

2. Plantar Fasciitis

Nyeri di bagian tumit saat bangun tidur atau setelah menyelesaikan sesi lari bisa menjadi tanda plantar fasciitis. Cedera ini terjadi akibat peradangan pada jaringan plantar fascia yang menghubungkan tumit dengan jari kaki. Kondisi tersebut sering dialami pelari yang menggunakan sepatu dengan bantalan kurang baik atau terlalu sering berlari di permukaan keras.

Rasa sakit biasanya muncul secara bertahap dan dapat mengganggu langkah saat berlari. Selain beristirahat, kamu dapat melakukan peregangan betis, memijat telapak kaki menggunakan bola kecil, serta menggunakan sepatu yang memiliki dukungan lengkung kaki yang sesuai. Penanganan yang tepat akan menurunkan tingkat keparahannya.

Baca Juga: 10 Tips yang Menentukan Berhasil Masuk Finish Line dalam Event Lari

Pencegahan Cedera
Sc: Prostock-studio

3. Iliotibial Band Syndrome (ITBS)

ITBS atau Iliotibial Band Syndrome merupakan cedera yang menyebabkan nyeri pada bagian luar lutut akibat peradangan pada pita iliotibial, yaitu jaringan yang membentang dari pinggul hingga lutut. Cedera ini sering muncul pada pelari yang meningkatkan jarak tempuh atau intensitas latihan secara tiba-tiba.

Otot paha dan pinggul yang kurang kuat juga dapat memperbesar risikonya. Gejala biasanya terasa semakin sakit ketika lari dilanjutkan, tetapi berkurang saat tubuh beristirahat. Untuk membantu pemulihan, lakukan peregangan pada paha dan pinggul, kompres dingin setelah latihan, serta latihan penguatan otot agar tekanan pada pita iliotibial berkurang.

4. Achilles Tendinitis

Achilles tendinitis adalah cedera pada tendon Achilles yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Cedera ini sering terjadi pada pelari jarak jauh atau mereka yang tiba-tiba meningkatkan volume latihan tanpa adaptasi bertahap. Gejalanya berupa rasa nyeri, kaku, atau sensasi terbakar di bagian belakang tumit, terutama pada pagi hari atau setelah berlari.

Jika dibiarkan, tendon dapat mengalami kerusakan yang lebih serius. Tentu saja, kasus seperti ini cukup berbahaya. Oleh karena itu, salah satu tips terbaiknya adalah dengan mengurangi aktivitas lari sementara waktu, melakukan peregangan secara perlahan, dan menghindari tekanan berlebihan menjadi langkah awal yang penting selama proses pemulihan.

5. Kram Otot

Kram sering dianggap masalah ringan, padahal kondisi ini termasuk kondisi medis yang bisa terjadi saat event lari, terutama pada lomba jarak jauh. Kram biasanya muncul akibat dehidrasi, kehilangan elektrolit, kelelahan otot, atau pacing yang terlalu cepat sejak awal. Ketika terjadi, otot terasa menegang secara tiba-tiba dan menimbulkan rasa sakit yang cukup hebat sehingga pelari sulit melanjutkan langkah.

Cara terbaik mengatasinya adalah berhenti sejenak, mengatur napas, melakukan peregangan ringan, serta memastikan tubuh mendapatkan cairan dan elektrolit yang cukup. Pencegahan jauh lebih efektif dibanding mengobatinya, sehingga pengaturan ritme lari dan hidrasi tidak boleh diabaikan.

6. Shin Splints (Cedera Tulang Kering)

Shin splints merupakan salah satu cedera yang paling sering terjadi pada event lari, terutama saat jarak atau intensitas latihan meningkat terlalu cepat. Cedera ini ditandai dengan nyeri di sepanjang tulang kering, baik di bagian depan maupun sisi dalam kaki. Jika diabaikan, rasa nyeri dapat mengganggu performa dan membuat proses pemulihan lebih lama.

Penyebabnya bisa berasal dari tekanan berulang pada tulang dan otot, penggunaan sepatu yang kurang sesuai, atau perubahan pola latihan yang terlalu drastis. Jika rasa nyeri mulai muncul, sebaiknya hentikan latihan sementara dan berikan waktu bagi kaki untuk pulih. Setelah kondisi membaik, tingkatkan kembali intensitas latihan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi.

Baca Juga: Apa Itu Flag Off? Kunci Start yang Sering Dianggap Sepele oleh Pelari

Kondisi Medis Saat Lari
Sc: Prostock-Studio_Getty Images

7. Blister atau Lenting pada Kaki

Tidak semua cedera saat lari melibatkan otot atau sendi. Gesekan berulang antara kulit dengan kaus kaki maupun sepatu dapat menyebabkan blister atau lenting yang berisi cairan. Kondisi ini sering dialami pelari jarak jauh karena kaki terus menerima tekanan selama berjam-jam. Meski terlihat ringan, blister bisa membuat langkah menjadi tidak nyaman dan mengganggu performa saat race.

Sebaiknya jangan memecahkan gelembung tersebut karena kulit di atasnya berfungsi melindungi jaringan yang sedang dalam proses penyembuhan. Untuk mengurangi risiko, gunakan sepatu dengan ukuran yang pas, kaus kaki khusus lari, serta pastikan kaki tetap kering selama beraktivitas.

8. Cedera Hamstring dan Stress Fracture

Selain cedera yang umum terjadi di area lutut dan telapak kaki, pelari juga berisiko mengalami cedera hamstring maupun stress fracture. Cedera hamstring terjadi ketika otot belakang paha tertarik melebihi batas kemampuannya, biasanya akibat sprint mendadak atau kurang pemanasan.

Sementara itu, stress fracture merupakan retakan kecil pada tulang yang muncul karena tekanan berulang dalam waktu lama. Kedua kondisi ini membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang dibanding cedera ringan. Jika rasa nyeri tidak kunjung membaik setelah beberapa hari istirahat atau justru semakin parah, segera lakukan pemeriksaan medis agar penanganannya lebih tepat.

Pencegahan Cedera Dimulai Sebelum Berlari

Sebagian besar jenis cedera saat lari sebenarnya dapat dicegah dengan persiapan yang baik. Mulailah dengan melakukan pemanasan dinamis selama beberapa menit agar otot dan sendi siap menerima beban latihan. Setelah itu, gunakan sepatu lari yang sesuai dengan bentuk kaki dan jenis latihan yang dilakukan.

Jangan lupa menerapkan prinsip peningkatan latihan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi. Selain itu, latihan penguatan otot, terutama pada area core, paha, betis, dan pinggul, juga membantu menjaga stabilitas tubuh selama berlari. Kebiasaan sederhana ini dapat menurunkan risiko cedera sekaligus meningkatkan performa saat latihan maupun race.

Perhatikan Kondisi Tubuh Selama Event Lari

Selain cedera pada otot dan sendi, ada beberapa kondisi medis yang bisa terjadi saat event lari seperti dehidrasi, kehilangan elektrolit, kelelahan berlebihan, hingga kram otot. Karena itu, penting untuk mengenali sinyal yang diberikan tubuh. Jangan memaksakan diri jika mulai merasakan nyeri tajam, pusing, atau tubuh kehilangan tenaga secara drastis.

Pastikan kebutuhan cairanmu selalu terpenuhi baik sebelum, selama, dan setelah berlari, terutama saat mengikuti race dengan jarak menengah hingga marathon. Selain itu, mengatur pace sesuai kemampuan juga menjadi langkah penting agar tubuh tidak bekerja melebihi kapasitasnya dan terhindar dari cedera.

Baca Juga: 15+ Jam Tangan Lari Terbaik 2026, Mana Andalanmu?

Cedera Saat Lari
Sc: Stoica Adrian’s Images

Penutup

Memahami jenis cedera saat lari bukan berarti membuatmu takut untuk berlari, melainkan membantu kamu lebih siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi. Dengan mengenali gejala sejak dini, melakukan penanganan yang tepat, serta menerapkan Pencegahan cedera secara konsisten, peluang mengalami gangguan saat latihan maupun event lari dapat dikurangi secara signifikan.

Ingat, perkembangan performa tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras kamu berlatih, tetapi juga seberapa baik kamu menjaga kondisi tubuh. Latihan yang terencana, pemulihan yang cukup, nutrisi yang seimbang, dan perlengkapan lari yang tepat akan membuat pengalaman berlari terasa lebih aman, nyaman, dan menyenangkan dalam jangka panjang.

Review Pocari Sweat Run Lombok 2026: Keseruan Lari di Sirkuit Mandalika

Artikel Lainnya Seputar Lari

July 16, 2026