Kalau kamu sering melihat data lari setelah menyelesaikan sesi latihan, selain pace, jarak, dan heart rate mungkin ada satu angka yang cukup menarik perhatian: elevation gain. Apa itu elevasi dalam lari? Sederhananya, elevasi menunjukkan total kenaikan ketinggian yang kamu lalui selama berlari.
Semakin besar angkanya, biasanya semakin banyak tanjakan yang harus dilewati dan semakin besar pula usaha yang dibutuhkan tubuh. Elevasi bukan hanya angka tambahan pada aplikasi lari. Bagi runners, metrik ini bisa membantu menggambarkan seberapa menantang sebuah rute sekaligus menjadi bagian dari evaluasi latihan. Yuk, cari tahu lebih banyak!
Apa Itu Elevasi dalam Lari?

Pada konteks olahraga, elevasi atau elevation gain adalah akumulasi kenaikan vertikal yang kamu tempuh selama aktivitas. Jadi, angka tersebut bukan menunjukkan seberapa tinggi posisi akhir kamu dari titik awal, melainkan total kenaikan dari seluruh tanjakan yang dilewati sepanjang rute.
Sebagai contoh, kamu mulai berlari di jalan datar kemudian melewati tanjakan setinggi 50 meter. Setelah turun, kamu kembali menemukan tanjakan lain setinggi 30 meter. Total elevation gain yang tercatat adalah 80 meter. Bagian turunan tidak mengurangi angka tersebut karena yang dihitung adalah akumulasi kenaikan.
Mengapa Elevasi Penting bagi Pelari?

Setelah memahami apa itu elevasi dalam lari, kamu mungkin bertanya-tanya, memangnya seberapa penting angka tersebut? Bagi runners yang ingin meningkatkan performa, elevasi bisa menjadi salah satu metrik untuk membaca tingkat kesulitan latihan dan perkembangan kemampuan fisik.
Tanjakan membuat tubuh bekerja melawan gravitasi sehingga membutuhkan tenaga lebih besar dibandingkan berlari di permukaan datar. Latihan dengan elevasi dapat memberikan stimulus berbeda pada otot kaki, sistem kardiovaskular, hingga mental ketika menghadapi rasa lelah. Berikut mengapa elevasi penting bagi para pelari.
1. Membantu Menilai Tingkat Kesulitan Rute
Elevation gain dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa menantang sebuah rute. Semakin tinggi total kenaikannya, semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan tubuh ketika melewati tanjakan. Informasi ini sangat berguna sebelum mengikuti race. Jika kamu mengetahui bahwa lintasan memiliki elevation gain yang cukup tinggi, kamu bisa mempersiapkan latihan dengan memasukkan tanjakan agar tubuh tidak kaget.
2. Melatih Kekuatan Otot Kaki
Berlari menanjak membuat otot paha depan, paha belakang, betis, dan glutes bekerja lebih keras untuk mendorong tubuh ke atas. Latihan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu membangun kekuatan kaki. Menariknya, peningkatan kekuatan tersebut juga bisa terasa ketika kamu kembali berlari di permukaan datar.
3. Meningkatkan Kapasitas Aerobik
Latihan di medan menanjak juga memberikan tantangan lebih besar bagi jantung dan paru-paru. Tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan aktivitas ketika intensitas meningkat. Kapasitas aerobik, yang salah satunya dapat digambarkan melalui VO2 Max, berperan dalam kemampuan tubuh menggunakan oksigen selama aktivitas. Melakukan latihan hill training akan sangat membantu.
4. Membantu Mengembangkan Mental Saat Berlari
Tanjakan bukan hanya menguji kekuatan kaki. Ketika napas mulai berat dan langkah terasa semakin lambat, kamu juga perlu menjaga konsistensi agar tetap bergerak sampai puncak. Pengalaman menghadapi kondisi tersebut dapat membantu membangun daya tahan mental. Kemampuan untuk tetap mengatur ritme ketika tubuh mulai lelah akan berguna ketika kamu menghadapi bagian sulit dalam sebuah race.
Baca Juga: Apa Itu Pacer? Kenali Fungsi, Cara Mengenali, dan Perannya Saat Event Lari
Bagaimana Cara Meningkatkan Elevasi dalam Latihan?

Menambah elevation gain bukan berarti kamu harus langsung mencari rute dengan tanjakan ekstrem. Justru, tubuh membutuhkan proses adaptasi agar terbiasa dengan beban yang lebih besar. Ada beberapa cara yang dapat kamu pilih sesuai kondisi latihan dan akses terhadap medan.
1. Hill Training
Hill training menjadi salah satu cara paling sederhana untuk memasukkan elevasi ke dalam latihan. Kamu bisa mencari jalan atau area dengan tanjakan, kemudian melakukan lari menanjak dengan intensitas yang disesuaikan kemampuan. Setelah mencapai bagian atas, gunakan turunan sebagai fase pemulihan dan ulangi beberapa kali. Bagi pemula, fokuslah dalam membangun adaptasi secara bertahap.
2. Trail Running
Kalau kamu memiliki akses ke area perbukitan atau pegunungan, trail running bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan elevation gain yang lebih besar. Perubahan ketinggian pada medan alami membuat tubuh tidak hanya menghadapi tanjakan, tetapi juga perlu beradaptasi dengan kondisi lintasan. Selain melatih kekuatan dan daya tahan, medan seperti ini juga menuntut keseimbangan serta koordinasi yang lebih baik.
3. Latihan Treadmill dengan Incline
Tidak punya akses ke bukit? Treadmill tetap bisa digunakan untuk melatih kemampuan menghadapi tanjakan. Manfaatkan fitur incline untuk memberikan kemiringan pada permukaan treadmill. Kamu dapat memulai dengan pemanasan menggunakan lari santai, kemudian meningkatkan kemiringan secara bertahap sambil menyesuaikan kecepatan.
4. Latihan Kekuatan Kaki
Latihan elevasi juga bisa didukung dengan strength training. Gerakan seperti squat, lunge, dan calf raises dapat membantu meningkatkan kekuatan otot kaki yang digunakan ketika berlari menanjak. Kombinasi antara latihan lari dan kekuatan membuat persiapan menjadi lebih menyeluruh.
Baca Juga: 7 Kesalahan Pelari Pemula yang Sering Diabaikan, Padahal Bisa Berujung Cedera
Bagaimana Cara Mengukur Elevation Gain?

Sekarang sudah banyak perangkat dan aplikasi olahraga yang dapat membantu kamu mengetahui total elevasi dalam sebuah sesi lari. Smartwatch dengan sensor altimeter barometrik dapat mendeteksi perubahan ketinggian ketika tubuh bergerak naik maupun turun. Selain smartwatch, aplikasi berbasis GPS seperti Strava dan Nike Run Club juga dapat memberikan estimasi elevation gain berdasarkan rute yang direkam.
Data tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan perubahan ketinggian berdasarkan jalur dan informasi topografi. Namun, hasil pengukuran dapat dipengaruhi oleh kualitas GPS maupun perangkat yang digunakan. Gunakan angka elevasi sebagai salah satu indikator latihan, bukan satu-satunya patokan untuk menentukan performa.
Tips Aman Saat Latihan Elevasi
Memahami apa itu elevasi dalam lari juga berarti memahami bahwa latihan di tanjakan memberikan beban yang berbeda dibandingkan lari datar. Sebaiknya, kamu mulai dari tanjakan yang sesuai kemampuan dan tingkatkan secara bertahap. Ketika menanjak, kamu bisa memperpendek langkah dan menjaga ritme agar tenaga tidak cepat habis.
Jangan lupa memperhatikan turunan karena berlari terlalu cepat saat menurun juga dapat memberikan tekanan lebih besar pada lutut dan otot paha. Kebutuhan cairan dan energi juga tetap perlu diperhatikan, terutama jika latihan berlangsung lama. Jika sesi latihan lebih dari satu jam, membawa air, elektrolit, atau sumber energi yang sesuai dapat membantu mempertahankan performa hingga latihan selesai.
Baca Juga: 7 Jenis Cedera Saat Lari yang Sering Terjadi Saat Race, Jangan Anggap Sepele!
Penutup
Namun, jangan menjadikan angka elevasi sebagai target yang harus selalu dikejar. Sesuaikan latihan dengan kemampuan, tingkatkan beban secara bertahap, dan kombinasikan hill training dengan latihan aerobik serta strength training. Memahami apa itu elevasi dalam lari dan cara melatihnya dengan tepat, kamu bisa membangun kemampuan menghadapi tanjakan tanpa mengabaikan proses adaptasi tubuh.
