Sebelum Sabastian Sawe, Yomif Kejelcha, dan Jacob Kiplimo memecahkan rekor marathon tercepat saat ini, nama Kelvin Kiptum disebut-sebut sebagai calon ‘raja marathon’ masa depan. Bagaimana tidak, ia termasuk pelari yang rendah hati namun langsung mengubah standar marathon modern. Sayang langkahnya terhenti dan ia pun pergi terlalu cepat di usia muda dan tak sempat lagi mencatatkan waktu terbaik berikutnya. Simak profil Kelvin Kiptum selengkapnya dalam artikel kali ini.
Dari Desa Kecil ke Panggung Marathon Dunia

Kelvin Kiptum lahir di Chepsamo, Chepkorio, Kenya, pada 2 Desember 1999. Seperti halnya anak-anak di desanya, Kiptum menghabiskan masa kecil dengan ikut membantu menggembala hewan ternak milik keluarganya. Di sela-sela waktu menggembala itulah dirinya perlahan mulai tertarik di dunia lari dengan ikut latihan bersama pelari lain. Menariknya, ia melakukannya tanpa sepatu dan hanya bertelanjang kaki di jalur hutan.
Memasuki usia 13 tahun tepatnya di tahun 2013, ia mencoba lebih serius latihan dan berhasil masuk finish urutan ke-10 di ajang Family Bank Eldoret. Hal tersebut menjadi pelecut baginya untuk terus getol latihan dengan lebih profesional. Hampir tujuh tahun berselang, debut internasionalnya dimulai pada ajang Lisbon Half Marathon, Portugal pada 2019. Ia pun langsung menempati posisi kelima.
Prestasi di Lisbon semakin membakar semangat latihannya, dan pada 2014 ia berlatih dengan Gervais Hakizimana, sang pemegang rekor lari halang rintang 3.000 meter asal Rwanda. Virgin marathonnya adalah saat tampil mengikuti Valencia Marathon 2022. Hasilnya pun sangat mengejutkan dengan catatan waktu 2:01:53, yang saat itu menjadi debut marathon tercepat sepanjang sejarah.
Selang beberapa bulan kemudian, Kiptum terjun lari di ajang London Marathon 2023 dan menyabet gelar juara dengan catatan waktu 2:01:25. Ia pun semakin dilirik banyak orang dan puncaknya adalah di Chicago Marathon 2023, dimana Kiptum dinobatkan sebagai pemenang dengan catatan waktu 2:00:35 sekaligus mematahkan rekor yang sebelumnya diraih Eliud Kipchoge.
Baca juga: Profil Sabastian Sawe: Sang Pemecah Rekor Lari Marathon Tercepat Saat Ini
Digadang Sebagai Raja Marathon Masa Depan

Apa yang membuat Kelvin Kiptum terasa berbeda dengan lainnya? Itu bukan hanya sekadar catatan waktunya saja, lebih dari itu tentang bagaimana ia menaklukkan setiap marathonnya. Banyak pelari elite mulai kehilangan pace setelah kilometer 30, tetapi Kiptum justru sering terlihat semakin kuat di fase akhir lomba.
Di Chicago Marathon 2023, ia menyelesaikan paruh kedua race dengan pace yang bahkan lebih cepat dibanding awal lomba. Strategi negative split seperti itu sangat jarang terjadi di level rekor dunia marathon. Banyak analis melihat kemampuan tersebut sebagai tanda bahwa Kiptum masih memiliki ruang berkembang lebih jauh lagi.
Berkat catatan waktu terbaik dan performanya itulah, banyak pihak mulai percaya bahwa Kiptum akan menjadi manusia pertama yang menembus dua jam marathon dalam lomba resmi. Ia bahkan dijadwalkan tampil di Rotterdam Marathon 2024 dengan target besar tersebut. Selain itu, Kiptum juga diprediksi menjadi kandidat kuat peraih medali emas marathon di Olimpiade Paris 2024.
Di usia 24 tahun, dirinya sudah memegang rekor dunia dan dianggap sebagai calon ‘raja marathon’ dunia di masa depan. Banyak orang melihatnya bukan hanya sebagai juara baru, tetapi sebagai pelari yang akan mengubah sejarah olahraga ini untuk jangka waktu yang cukup lama sebelum akhirnya rekor itu dipecahkan oleh Sabastian Sawe dan Yomif Kejelcha.
Baca juga: Profil Tigst Assefa: Catat Sejarah Rekor Marathon Dunia Kategori Wanita
Kepergian yang Terlalu Cepat

Pada 11 Februari 2024, dunia lari dikejutkan oleh kabar meninggalnya Kelvin Kiptum akibat kecelakaan mobil di Kenya. Dalam kecelakaan tersebut, pelatihnya, Gervais Hakizimana, juga meninggal dunia. Kabar tersebut terasa sangat berat karena datang hanya beberapa hari setelah rekor dunia marathon miliknya resmi disahkan oleh World Athletics.
Kejadian nahas itu terjadi di antara kota Kaptagat dan Eldoret sekitar pukul 23:00 waktu setempat. Daerah tersebut dikenal dengan dataran tinggi yang kerap dijadikan tempat latihan paling terkenal bagi para pelari marathon. Di sana ia kehilangan kendali saat menyetir mobil lalu menabrak pohon dan berakhir di sebuah selokan.
Kepergiannya memunculkan rasa kehilangan khususnya bagi komunitas lari dunia. Bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena potensi besar yang belum sempat mencapai puncaknya. Meski kariernya sangat singkat, warisannya dalam dunia marathon modern tercatat dalam sejarah. Hanya tiga race saja, ia berhasil mengubah cara orang memandang pace marathon dan membuat batas yang sebelumnya dianggap mustahil dapat menjadi kenyataan. Run to heaven, Kiptum! sebagaimana ditulis Kompas dalam tajuk mereka.
