Profil Tri Kurnia Sandy: Pengalaman Pertama Event Maybank Marathon 2025

by Editor Jadwal Lari  - September 9, 2025

Tidak semua marathon dimulai dari garis start, ada yang dimulai dari sebuah niat sederhana untuk berbagi. Bagi Tri Kurnia Sandy, Maybank Marathon 2025 bukan hanya tentang menaklukkan jarak 42 km, melainkan juga tentang berlari dengan hati untuk membawa harapan bagi orang lain. Yuk, simak kisah dan perjalanan serta perjuangannya dalam mengikuti event bergengsi tersebut.

Pecah Telur Marathon Pertama

Setiap pelari tentu punya momen spesial yang tidak terlupakan: saat berhasil menuntaskan marathon pertama alias ‘virgin marathon’. Begitu pula dengan Tri Kurnia Sandy, yang pada tahun 2025 berhasil mewujudkan mimpinya untuk menyelesaikan jarak penuh 42,195 km. Ajang Mandiri Jogja Marathon pada Juni lalu menjadi saksi langkah pertamanya di dunia marathon. Setelah berhasil menyentuh garis finish, ia tak berhenti sampai di situ. Justru, pengalaman tersebut menjadi pintu pembuka untuk perjalanan yang lebih bermakna.

Dua bulan kemudian, Sandy kembali menantang dirinya dengan mengikuti Maybank Marathon 2025 di Bali. Tak hanya sekadar ingin mengulang pencapaian, kali ini ia membawa misi yang lebih besar. Baginya, marathon kedua ini bukan lagi tentang kecepatan atau catatan waktu, tetapi tentang menyalurkan energi untuk tujuan yang lebih mulia.

Baca juga: 7 Event Marathon Terbesar di Dunia, Mana Sajakah?

Ikut Maybank Marathon 2025 Lewat Jalur Charity

Berbeda dari kebanyakan peserta lainnya, Sandy mengikuti Maybank Marathon 2025 melalui program Maybank Marathon Run For Charity (MMRFC25). Jalur ini bukan sekadar soal mendaftar race, tetapi juga menggalang dana untuk membantu sesama. Bersama Make a Wish Indonesia, Sandy berkomitmen untuk mendukung anak-anak dengan penyakit kritis agar bisa merasakan kebahagiaan dari harapan yang terwujud.

Berlari sambil berdonasi? Why not?” begitu ungkapnya ketika menceritakan alasan memilih jalur charity. Awalnya ia sempat ragu apakah mampu menyelesaikan tantangan ini, apalagi karena waktunya berdekatan dengan marathon pertamanya di Jogja. Namun berkat dukungan coach, teman, hingga komunitas lari, keraguan itu berubah menjadi keyakinan.

Proses penggalangan dana juga menjadi cerita tersendiri. Sandy menggerakkan banyak kanal, mulai dari Instagram dengan reels dan story, berbagi flyer ke grup WhatsApp komunitas, hingga menghubungi calon donatur secara personal. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah membangun kepercayaan dan kesadaran orang-orang untuk ikut berdonasi. Target donasi sebesar Rp10 juta sempat terasa berat, tetapi justru di H-7 menjelang race, dukungan mengalir deras hingga target pun tercapai.

Dari perjalanan ini, Sandy menemukan makna baru: finish bukan hanya soal garis akhir lomba, melainkan juga tentang berhasil membawa harapan bagi mereka yang membutuhkan. Seperti tagline pribadinya, “Running with Purpose, Fueled by Kindness.”

Baca juga: Mengenal Maybank Marathon: Pilihan Wajib Penggemar Lari Marathon

Persiapan Fisik dan Mental yang Maksimal

Menjalani marathon kedua dalam selang waktu dua bulan tentu bukan perkara ringan. Sandy pun mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan mengikuti training program yang ketat dari coach Mirsal: lima kali latihan dalam seminggu dengan menu variatif mulai dari easy run, interval, tempo run, hingga strength training. Ia juga menambahkan sesi long run dan lari di medan menanjak untuk membiasakan tubuh menghadapi rute yang menantang.

Dari sisi mental, ia menjaga semangat dengan afirmasi positif setiap hari: “Kamu bisa, dan pasti bisa!” Baginya, kalimat sederhana itu menjadi senjata ketika rasa malas atau demotivasi menghampiri.

Strategi race juga dipersiapkan matang. Sandy memilih pace 7.30 – 8.00 agar tetap stabil sepanjang jalur. Nutrisi dijaga dengan makanan bergizi seimbang, minuman elektrolit, serta menghindari gorengan meski diakuinya sangat susah untuk ditinggalkan. Selain itu, istirahat 8 jam penuh jadi kunci, ditambah persiapan fueling berupa energy gel dan kurma saat lomba.

Ketika berdiri di garis start Maybank Marathon 2025, perasaan campur aduk memenuhi dirinya. Ada rasa senang, ada pula sedikit cemas. Namun begitu race dimulai, semangat warga Bali dan cheering dari penonton memberikan energi tambahan. Bahkan ketika melewati tanjakan yang terasa tak ada habisnya, Sandy tetap tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri “Yuk bisa, kita finish bareng!

Baca juga: Kuasai 5 Teknik Lari Maraton Ini Biar Finish Strong!

Harapan Positif untuk Sesama Pelari

Bagi Sandy, pengalaman mengikuti Maybank Marathon 2025 lewat jalur charity meninggalkan kesan mendalam. Ia merasakan betapa olahraga lari bisa menjadi sarana nyata untuk membawa dampak sosial. Dengan berlari, ia bukan hanya membuktikan kemampuan diri, tetapi juga membantu anak-anak mewujudkan impiannya.

Dukungan keluarga, sahabat, dan salah satunya komunitas Anak Asuh Ical (AAI) menjadi pilar utama dalam perjalanannya. Pesan mereka sederhana, tetaplah berbuat baik di manapun dan kapanpun. Sandy pun berjanji akan terus melanjutkan aksi sosial melalui olahraga, salah satunya dengan rencana mengikuti Run to Care 2026 pada kategori 50K bersama kakaknya, Michele Sahetapy.

Melalui pengalamannya, ia ingin mengajak masyarakat untuk ikut peduli. Menurutnya, berbagi tidak akan membuat kita miskin, justru menghadirkan kebahagiaan yang tulus ketika melihat senyum orang lain.

Satu kata yang ia gunakan untuk menggambarkan event Maybank Marathon 2025 adalah “Duwur! (tinggi dalam bahasa Jawa)” istilah yang mencerminkan tanjakan khas rute Bali yang luar biasa menantang, tetapi justru membuatnya ketagihan untuk kembali tahun depan.

Penggalan dari cerita Sandy menjadi bukti bahwa marathon bukan hanya soal fisik, melainkan juga soal hati. Ketika langkah kaki dipadukan dengan niat mulia, setiap kilometer berubah menjadi perjalanan penuh makna. Kamu bisa temukan Sandy di Instagram di @sandisandol94 atau di strava Sandi Sandol

Kuasai 5 Teknik Lari Maraton Ini Biar Finish Strong!
Mengenal Jenis-jenis Lari, dari Jarak Pendek Hingga Jauh

Artikel Lainnya Seputar Lari

January 13, 2026

January 13, 2026