sc: JETE
Sc: JumlongCh Getty Images

Apa Itu Negative Split? Trik Mengatur Pace agar Tenaga Nggak Habis Duluan

by Yasmina Alda  - September 23, 2026

Sc: JumlongCh Getty Images

Banyak pelari terbiasa langsung meningkatkan kecepatan begitu perlombaan dimulai karena terbawa suasana dan adrenalin. Apa itu negative split menjadi pertanyaan penting jika kamu ingin menghindari kesalahan tersebut dan mengatur tenaga dengan lebih cerdas. Strategi ini mengajak pelari menahan kecepatan di awal, kemudian meningkatkannya secara bertahap hingga garis finish.

Alih-alih menghabiskan energi pada kilometer awal, negative split membuat kamu menyimpan tenaga untuk paruh kedua lomba. Strategi ini banyak digunakan dalam olahraga daya tahan, termasuk lari jarak jauh, karena membantu pelari menjaga ritme sekaligus menghadapi bagian akhir perlombaan dengan kondisi yang masih cukup kuat. Yuk, cari tahu lebih lanjut!

Apa Itu Negative Split?

Apa Itu Negative Split
Sc: TRAVELARIUM

Secara sederhana, negative split adalah strategi membagi perlombaan menjadi beberapa bagian dengan kecepatan yang semakin meningkat. Pada paruh pertama, kamu berlari dengan pace yang lebih lambat atau terkendali, kemudian meningkatkan kecepatan pada paruh kedua. Konsepnya berlawanan dengan kebiasaan pelari yang terlalu cepat sejak start.

Saat mengikuti lomba, suasana kompetisi memang mudah membuat seseorang ingin mengejar pelari di depannya. Padahal, kecepatan yang terlalu tinggi sejak awal dapat membuat cadangan energi cepat terkuras sebelum mencapai bagian akhir. Sebagai gambaran, kamu bisa memulai lari dengan pace 6:00/km, kemudian secara bertahap meningkatkan ritme hingga mendekati 5:30/km menjelang finish.

Alasan Strategi Negative Split Digunakan

Tujuan Negative Split
Sc: charliepix

Setelah memahami apa itu negative split, hal berikutnya adalah mengetahui alasan strategi ini banyak digunakan dalam olahraga daya tahan. Kuncinya berada pada pengelolaan energi dan kemampuan mengontrol intensitas sejak awal perlombaan. Negative split memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi sebelum menerima beban yang lebih tinggi.

Saat memasuki paruh kedua, kamu dapat meningkatkan usaha secara bertahap sesuai kondisi tubuh. Strategi ini juga memberikan keuntungan psikologis karena kamu bisa melewati pelari lain yang mulai kehilangan tenaga. Ada beberapa manfaat yang membuat strategi ini menarik untuk dicoba dalam latihan maupun perlombaan.

1. Membantu Menghemat Energi

Memulai lomba dengan pace yang lebih terkendali membuat kamu tidak langsung menghabiskan cadangan tenaga. Energi tersebut dapat digunakan ketika memasuki kilometer akhir, saat kebutuhan untuk meningkatkan kecepatan justru semakin besar. Pada lomba jarak jauh, kemampuan menyimpan tenaga menjadi penting karena kelelahan biasanya semakin terasa ketika jarak bertambah.

2. Membantu Mengontrol Napas dan Detak Jantung

Kecepatan yang meningkat secara bertahap memberi tubuh kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan intensitas latihan atau perlombaan. Kamu tidak langsung memaksa tubuh bekerja pada tingkat yang tinggi sejak kilometer pertama. Kontrol ritme ini membantu menjaga pernapasan dan detak jantung agar tidak melonjak terlalu cepat. Peningkatan intensitas pada paruh kedua pun dapat dilakukan lebih terukur.

Baca Juga: Apa Itu LSD Run? Rahasia Latihan Pelari untuk Membangun Endurance

3. Mengurangi Risiko Kelelahan Dini

Salah satu masalah yang sering terjadi ketika lomba adalah terlalu cepat pada awal perlombaan. Kilometer pertama mungkin terasa mudah karena tubuh masih memiliki banyak energi, tetapi dampaknya dapat muncul beberapa kilometer kemudian. Negative split membantu menghindari pola tersebut. Kamu menahan keinginan untuk langsung mengejar peserta lain dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menemukan ritmenya.

4. Memberikan Keuntungan Psikologis

Ada kepuasan tersendiri ketika kamu mampu melewati pelari lain pada paruh kedua perlombaan. Kondisi ini dapat memberikan dorongan mental karena kamu merasa masih memiliki tenaga ketika peserta lain mulai melambat. Selain itu, menyelesaikan lomba dengan peningkatan kecepatan dapat membuat pengalaman berlari terasa lebih terkendali.

5. Membantu Membuat Strategi Lomba Lebih Terukur

Negative split juga membuat kamu memiliki kesempatan membaca kondisi selama perlombaan. Pada bagian awal, kamu dapat memperhatikan napas, kaki, medan, cuaca, serta situasi peserta lain sebelum menentukan kapan harus meningkatkan kecepatan. Strategi ini bukan hanya soal angka pace. Kamu juga perlu paham kondisi tubuh dan situasi di lapangan agar peningkatan kecepatan tidak dilakukan secara berlebihan.

Baca Juga: Apa Itu Elevasi dalam Lari? Kenali Pengertian, Manfaat, dan Cara Latihannya

Contoh Penerapan Negative Split untuk Lari 10K

Penjelasan Negative Split
Sc: Pavel1964 Getty Images

Agar pemahaman soal apa itu negative split dengan lebih mudah, bisa melihat contoh sederhana pada lari 10K. Misalnya, kamu membagi jarak perlombaan menjadi dua bagian, yaitu kilometer 1-5 dan kilometer 6-10. Pada lima kilometer pertama, gunakan pace yang nyaman dan terkendali. Misalnya, kamu berlari pada pace sekitar 7:00/km.

Tidak masalah jika ada peserta lain yang melewatimu karena tujuan fase ini adalah menyimpan tenaga sekaligus menemukan ritme lari yang stabil. Memasuki kilometer keenam, kamu mulai meningkatkan kecepatan secara perlahan. Pace dapat dinaikkan menuju 6:30/km jika kondisi tubuh memungkinkan.

Pada kilometer terakhir, sisa tenaga dapat digunakan untuk mempertahankan atau kembali meningkatkan kecepatan hingga mencapai garis finish. Kuncinya bukan sekadar membuat paruh kedua lebih cepat, tetapi memastikan peningkatan tersebut tetap realistis. Jika terlalu lambat pada lima kilometer pertama, mengejar waktu di bagian akhir justru bisa membuat tubuh bekerja terlalu keras.

Cara Melatih Negative Split Sebelum Race

Negative Split
Sc: TRAVELARIUM

Negative split sebaiknya tidak langsung dicoba dalam perlombaan tanpa latihan. Kamu perlu membiasakan tubuh dan pikiran untuk menahan kecepatan di awal sekaligus belajar meningkatkan intensitas ketika memasuki bagian akhir. Salah satu cara yang dapat dicoba adalah memulai sekitar 5-10 persen lebih lambat dari kecepatan normal.  Setelah beberapa kilometer, tingkatkan pace secara bertahap.

1. Mulai dengan Pace yang Terkendali

Pada awal latihan, jangan langsung mengejar pace tercepat yang mampu kamu capai. Gunakan kecepatan yang terasa nyaman sehingga kamu masih memiliki tenaga untuk meningkatkan intensitas pada bagian berikutnya. Tahap ini juga menjadi latihan mental. Kamu perlu membiasakan diri untuk tidak terpancing meningkatkan kecepatan.

2. Tingkatkan Kecepatan Secara Bertahap

Setelah melewati beberapa kilometer, mulai tingkatkan pace sedikit demi sedikit. Hindari perubahan yang terlalu drastis karena tujuan latihan adalah membangun transisi dari intensitas rendah menuju intensitas yang lebih tinggi. Kamu dapat menggunakan pembagian tiga blok, misalnya 3 km pertama dengan pace nyaman, 3 km berikutnya sedikit lebih cepat, kemudian 3 km terakhir dengan pace paling tinggi.

3. Catat Hasil Latihan

Mencatat pace dan perkembangan latihan dapat membantu kamu memahami respons tubuh terhadap strategi tersebut. Data bisa digunakan untuk melihat apakah peningkatan kecepatan pada paruh kedua sudah sesuai kemampuan atau justru terlalu agresif. Catatan latihan juga membuat kamu lebih mudah menentukan strategi ketika menghadapi perlombaan berikutnya.

4. Simulasikan Jarak Perlombaan

Jika kamu sedang mempersiapkan lomba 10K, lakukan simulasi dengan jarak dan pembagian pace yang mendekati kondisi race. Cara ini membantu tubuh terbiasa dengan pola berlari yang akan digunakan ketika perlombaan sebenarnya. Simulasi juga memungkinkan kamu mengetahui apakah pace awal terlalu lambat atau peningkatan pada bagian akhir terlalu berat.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mencoba Negative Split

Menerapkan negative split bukan berarti kamu harus berlari sangat pelan pada awal lomba. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemula justru terlalu menahan kecepatan sehingga target waktu menjadi sulit dikejar pada bagian akhir. Kesalahan lainnya adalah meningkatkan pace terlalu cepat sebelum mencapai paruh kedua.

Kondisi tersebut membuat konsep negative split kehilangan manfaat utamanya karena cadangan energi sudah kembali terkuras sebelum waktunya. Kamu juga perlu mempertimbangkan kondisi eksternal. Cuaca panas, hujan, angin, medan, tanjakan, hingga kondisi tubuh pada hari perlombaan dapat memengaruhi strategi. Sebab, pace tidak selalu harus mengikuti angka yang sama seperti saat latihan.

Baca Juga: Apa Itu Pacer? Kenali Fungsi, Cara Mengenali, dan Perannya Saat Event Lari

Penutup

Negative split dapat menjadi strategi menarik bagi kamu yang ingin menyelesaikan lomba dengan tenaga yang lebih terkontrol. Jika memulainya secara terkendali, menyimpan energi, lalu meningkatkan kecepatan secara bertahap, kamu memiliki peluang untuk menghadapi kilometer akhir dengan kondisi yang lebih siap.

Namun, strategi ini tetap membutuhkan latihan dan penyesuaian. Jangan terpaku pada angka pace semata karena kondisi tubuh, cuaca, medan, serta karakter perlombaan juga perlu diperhatikan. Mulai dari sesi latihan sederhana, kenali kemampuanmu, lalu temukan pola negative split yang paling sesuai.

Review Garmin Run Indonesia 2026: Usung Tema From Zero to Hero & Keberlanjutan

Artikel Lainnya Seputar Lari

September 15, 2026

September 14, 2026