Konsistensi sering kali menjadi kata kunci dalam olahraga lari. Bukan soal latihan keras semata, tetapi tentang bagaimana seseorang menjaga komitmen di tengah rutinitas dan tantangan hidup. Dari perubahan pola hidup hingga cara memandang proses, perjalanan seorang pelari kerap menyimpan kisah yang relevan bagi banyak orang, seperti yang diangkat dalam Profil Opie Novianti kali ini.
Lari yang Mengubah Pola Hidup

Bagi Opie Novianti, lari awalnya bukan soal podium atau catatan waktu. Wanita asal Pontianak ini mulai berlari pada tahun 2019 dengan alasan yang sangat sederhana: ingin sehat dan bugar. Seiring waktu, langkah-langkah kecil itu berubah menjadi tantangan personal. Ia mulai menetapkan target demi target, bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk menaklukkan dirinya sendiri.
Menariknya, lari juga mengubah cara Opie memandang tubuh dan pola hidupnya. Ia tak lagi terlalu khawatir soal makan atau diet ketat. Aktivitas fisik yang konsisten membuatnya lebih percaya diri, lebih bebas menikmati makanan, dan tetap merasa sehat. Dari sekadar hobi, lari perlahan menjadi ruang pembuktian bahwa disiplin dan konsistensi bisa membawa perubahan nyata dalam hidup.
Baca juga: Ini Manfaat Lari Bertelanjang Kaki bagi Kesehatan dan Juga Risikonya!
Medali Pertama dan Bahagia Sederhana

Pengalaman lomba pertama selalu punya tempat istimewa, dan bagi Opie, itu terjadi di Pontianak City Run 2020. Ia turun di kategori 5K Open, jarak yang bagi banyak pelari pemula sudah terasa menantang. Namun yang paling diingat bukan soal capaiannya, melainkan momen sederhana saat medali pertama dikalungkan di lehernya. Rasa bahagia itu menjadi pemantik untuk terus kembali ke garis start di berbagai ajang berikutnya.
Dari lomba lokal hingga event yang lebih besar, Opie mulai menyadari bahwa lari bukan sekadar aktivitas fisik semata. Lebih dari itu adalah pengalaman emosional, tentang usaha, rasa lelah, dan kepuasan setelah mencapai garis finish. Setiap race selalu meninggalkan cerita, baik yang manis maupun yang pahit.
Baca juga: Perbandingan Antara Jalan Cepat vs Jogging yang Wajib Kamu Tahu!
Marathon yang Menguji Mental

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan lari Opie terjadi pada Maybank Marathon 2023. Itu adalah full marathon pertamanya, sekaligus momen duka yang berat karena bertepatan dengan kepergian sang ayah untuk selamanya. Kebimbangan sempat muncul antara berangkat atau membatalkan, antara melanjutkan latihan yang sudah berbulan-bulan atau memilih berhenti.
Keputusan akhirnya diambil setelah rangkaian tahlilan selesai. Dengan hati yang masih diselimuti duka, Opie berdiri di garis start. Lari pada saat itu bukan tentang kecepatan, tetapi tentang bertahan. Ia berhasil menyelesaikan virgin full marathon-nya dengan waktu yang bisa dibilang baik sebuah pencapaian yang terasa jauh lebih bermakna dari sekadar angka.
Dua tahun kemudian, pada Oktober 2025, Opie kembali menghadapi ujian berat di full marathon ketiganya. Target yang disusun rapi runtuh karena cedera. Tangis pecah di kilometer 19, nyeri tak terhindarkan, dan mental benar-benar diuji. Namun ia tetap melangkah hingga garis finis. Dari situlah ia belajar bahwa marathon mengajarkan kesabaran dan keberanian menghadapi rasa sakit fisik maupun batin.
Baca juga: Intip Rahasia Tapering Marathon: Strategi Jitu Menuju Garis Finish
Jaga Motivasi dan Prestasi di Dunia Lari

Apa yang dulu sekadar hobi, kini telah menjadi gaya hidup. Lari membuat ritme hidup Opie berubah total. Tidur lebih teratur, bangun subuh tanpa alarm, dan perasaan bahagia setelah olahraga menjadi energi tambahan untuk bekerja dan menjalani hari. Ia merasa lebih bugar, lebih segar, dan menurutnya bisa bikin lebih awet muda.
Sebagai bagian dari JETE Squad Runners, motivasinya semakin terjaga. Dukungan perlengkapan yang memadai dan kesempatan bertemu pelari dari berbagai daerah memperkaya perjalanannya. Prestasinya pun berbicara: podium di berbagai ajang 5K hingga 10K, baik kategori open maupun master, sepanjang 2024–2025.
Untuk mereka yang baru ingin mulai berlari, pesan Opie sederhana namun kuat: bangun kebiasaan. Mulailah dari jalan kaki 30 menit, tanpa paksaan. Tak perlu langsung berlari kencang. Campur jalan dan lari kecil, yang penting konsisten dan disiplin. Tidak ada hasil instan, yang ada hanyalah proses. Dan dari proses itulah, perubahan perlahan akan datang.
