Perjalanan lari terkadang dimulai dari hal yang paling sederhana. Bahkan, di lingkungan sekolah sejak kecil bisa jadi motivasi saat dewasa. Itulah yang dialami oleh Nur Kholis, pelari yang berhasil menaklukkan ultra dengan konsistensi tinggi. Bagaimana perjalanan dan cerita seru yang dialaminya? Simak selengkapnya dalam profil Nur Kholis di artikel kali ini!
Motivasi Lari dari Keluarga

Motivasi utama Nur Kholis untuk berlari berangkat dari lingkungan keluarga. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang sangat menyukai olahraga. Pola hidup sehat ditanamkan sejak dini, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebiasaan. Dari situlah kedekatannya dengan aktivitas fisik terbentuk secara alami.
Salah satu momen paling awal yang membekas terjadi saat ia duduk di kelas 4 Madrasah. Pada masa itu, sekolahnya mengadakan seleksi untuk pekan olahraga. Cabang yang ia ikuti adalah lari sprint 100 meter. Uniknya, perlombaan itu tidak berlangsung di lintasan standar, melainkan di halaman sekolah yang penuh kerikil. Tanpa sepatu, tanpa persiapan khusus, ia berlari nyeker, lebih karena dorongan mencoba daripada mengejar prestasi.
Hasilnya justru di luar dugaan. Nur Kholis meraih juara dua. Podium pertama itu menjadi pengalaman yang tidak pernah ia rencanakan, tetapi justru membuka kesadaran bahwa ia memiliki potensi. Bukan kemenangan yang membuatnya terpikat, melainkan rasa percaya diri baru yang muncul setelah melewati garis finish. Dari sebuah lomba sederhana, lahir benih kecintaan pada lari yang terus tumbuh hingga dewasa.
Baca juga: 7+ Cara Konsisten Lari, dari Niat Sampai Jadi Rutinitas
Cedera Jadi Ujian Mental

Perjalanan lari Nur Kholis tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami cedera yang memaksanya berhenti berlari hampir satu bulan penuh. Masa pemulihan itu menjadi ujian mental. Namun dari pengalaman tersebut, ia belajar memahami batas tubuh dan pentingnya pemulihan. Ketakutan yang dulu sempat ada kini tidak lagi menghalanginya. Ia kembali berlari dengan lebih bijak.
Dalam menjaga semangat, peran keluarga dan rekan-rekan pelari sangat besar. Mereka menjadi sumber motivasi utama yang terus memberi dukungan. Lari baginya adalah aktivitas kolektif, meski sering dilakukan sendiri. Ada jaringan pertemanan yang saling menyemangati di balik setiap sesi latihan.
Tujuan utamanya tetap sederhana: menjaga tubuh tetap bugar dan sehat. Dari lari, ia merasa mampu beraktivitas lebih banyak dan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menjadikan aktivitas larinya sebagai konten, dengan harapan dapat menyebarkan pesan positif kepada masyarakat luas. Bagi Nur Kholis, berbagi pengalaman berlari adalah cara mengajak lebih banyak orang untuk menjaga kesehatan melalui olahraga.
Baca juga: 7 Gerakan Pemanasan Sebelum Lari Agar Terhindar dari Cedera!
Konsisten Menjaga Ambisi

Pada awalnya, Nur Kholis berlari tanpa target yang jelas. Lari ia jalani sebagai sarana menjaga konsistensi berolahraga. Tujuannya sederhana: tetap aktif, tetap sehat, dan menjaga rutinitas. Namun seiring waktu, dunia lari berkembang pesat dan menjadi tren di berbagai kalangan. Dari situlah ambisinya mulai berubah.
Ia mulai mendaftarkan diri dalam berbagai race. Jarak tempuhnya meningkat secara bertahap: dari 5 kilometer, naik ke jarak-jarak yang lebih panjang, hingga akhirnya mencapai kategori ultra dengan jarak 160 kilometer. Perjalanan ini tidak instan. Setiap kenaikan jarak selalu dibarengi dengan peningkatan porsi latihan.
Target bulanannya pun menjadi semakin terukur. Ia menargetkan rata-rata berlari sejauh 200 kilometer dalam sebulan. Dalam satu minggu, ia bisa berlari hingga lima kali, baik pagi maupun sore. Disiplin ini menjadi kunci utama. Lari bukan lagi aktivitas sesekali, melainkan bagian dari ritme hidup.
Race pertamanya ia ikuti pada tahun 2017 di Borobudur Marathon, Magelang, langsung di kategori 21 kilometer. Di sanalah ia merasakan perubahan besar dalam dirinya. Saat race, jiwa kompetitifnya muncul dengan kuat. Ia berlari dengan ambisi lebih tinggi, mengerahkan usaha maksimal sebagai hasil dari latihan panjang. Bagi Nur Kholis, race bukan hanya ajang adu cepat, tetapi momen untuk mengukur sejauh mana konsistensi membuahkan hasil.
