sc: GPT Image AI Generator

Profil Naufal Rahman: Pecah Virgin Marathon di Tokyo

by Editor Jadwal Lari  - September 23, 2025

Bagi sebagian besar pelari, iku marathon penuh pertama kali (virgin marathon) adalah pengalaman yang tak terlupakan. Biasanya, mereka mencoba ikut event dalam negeri terlebih dahulu dan jika tembus, barulah ke event internasional. Rupanya, hal itu berkebalikan dengan Naufal Rahman. Gagal ikut marathon pertama dalam negeri, dirinya justru mencatatkan prestasi di Tokyo Marathon 2025. Bagaimana kisahnya? Simak profil Naufal Rahman berikut ini.

Gagal di Dalam Negeri, Moncer di Tokyo

Perjalanan Naufal menuju Tokyo Marathon 2025 bermula dari sesuatu yang sederhana, iseng mendaftar. Melihat temannya mencoba ballot, ia pun mengikuti dan merasa percaya diri untuk naik ke full marathon (FM), karena telah banyak mengikuti latihan dan beberapa kali ikut race half marathon (HM) sejak 2023. Apalagi ia sebelumnya gagal mendapat slot di Maybank Marathon dan Borobudur Marathon tahun lalu.

Keberuntungan pun berpihak padanya, ballot Tokyo Marathon justru membuka pintu. Selain itu, ada alasan kuat mengapa harus mengikuti event ini. Mulai dari akomodasi relatif terjangkau, tak perlu apply visa, race course yang hampir flat, dan cuaca mendukung (hanya belasan derajat Celcius), serta kuliner Jepang yang selalu menggoda.

Baca juga: Intip Rahasia Tapering Marathon: Strategi Jitu Menuju Garis Finish

Dukungan Penuh Program ASICS 

Momen keberuntungan lain datang ketika ASICS Indonesia membuka program khusus bagi pelari yang lolos ballot Tokyo Marathon, Mind Over Miles. Naufal terpilih sebagai salah satu peserta bersama tiga lainnya yakni Danar Guritno, Glenda Vyona, dan Jasment.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa perlengkapan berupa produk sepatu dan apparel ASICS saja, tetapi juga akomodasi dan transportasi serta program pelatihan komprehensif yang dipandu coach Andriyanto dan MOTIVA Performance untuk strength training dan recovery. Program ini disusun untuk meningkatkan performa, dengan fokus pada strategi pace, fueling, hingga manajemen recovery.

Hal itu pula yang mengubah pandangan Naufal mengenai paradigma latihan tidak harus selalu 100%. Dengan kata lain, latihan haruslah menyesuaikan kondisi badan dan tidak menggeber dan ngoyo (terlalu keras). Di program pelatihan ini dirinya memahami pentingnya latihan lari secara terstruktur, melakukan inteval, melakukan long run, dan menentukan pace yang masuk akal sesuai fisik saat latihan. Tujuannya adalah agar kita 100% siap saat race dan memberikan yang terbaik.

Rutinitas latihan dijalani selama empat bulan dengan volume lima kali lari per minggu untuk mencapai mileage 60 – 70 km per minggu dengan strength training dua kali per minggu. Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu antara pekerjaan dan latihan. Namun dengan disiplin, istirahat cukup, serta pola makan yang tepat, tubuhnya beradaptasi. Dari situ, persiapan yang awalnya hanya dimulai dari rasa iseng berkembang menjadi komitmen penuh.

Baca juga: 7 Sepatu Lari Asics Terbaik: Mana yang Cocok untuk Gaya Lari Kamu?

Pengalaman Tak Terlupakan di Tokyo Marathon

Berdiri di garis start bersama 37 ribu pelari dari seluruh dunia menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Naufal. Suasana Tokyo Marathon benar-benar berbeda: dukungan penonton yang meriah, sorakan “Ganbatte!” di sepanjang rute, hingga penampilan musik di jalan membuat atmosfer terasa istimewa.

Meski fisik sudah terlatih, perjalanan 42 kilometer tetap menghadirkan tantangan. GPS pada jam tangan sempat tidak akurat, cuaca lebih panas dari perkiraan, dan pada kilometer 25 kaki mulai terasa kaku.

Strategi run-walk akhirnya digunakan hingga garis finish. Namun dengan mental yang terjaga dan dukungan penonton, terutama sesama orang Indonesia, Naufal berhasil menuntaskan marathon perdananya dengan waktu 4 jam 11 menit.

Baca juga: Semua Tentang Tokyo Marathon yang Wajib Kamu Tahu!

Siap Taklukkan Marathon Berikutnya

Rasa lelah seketika hilang saat melintasi garis finish. Walaupun target pribadi belum tercapai, Naufal merasa pencapaiannya di Tokyo Marathon sangat berharga. Marathon perdananya pecah di salah satu ajang paling prestisius dunia. Bagi Naufal, ini bukan hanya tentang catatan waktu, tetapi tentang membuktikan bahwa persiapan yang matang bisa membawa hasil nyata.

Dukungan keluarga, teman, dan komunitas semakin menguatkan perjalanan larinya. Melalui pengalaman ini, Naufal juga membagikan edukasi di media sosial bahwa marathon tidak bisa ditempuh secara instan dibutuhkan proses, konsistensi, dan komitmen jangka panjang.

Bahkan, kini ia sudah menyiapkan target baru, termasuk Maybank Marathon dan Jakim Marathon. Bagi Naufal, Tokyo Marathon akan selalu menjadi titik awal yang membanggakan, sebuah bukti bahwa kadang niat sederhana bisa berakhir dengan pencapaian luar biasa.

5 Laptop Gaming Asus Terbaik, Siap Main Game Rata Kanan
Ternyata Ini Manfaat LASIK untuk Pelari dan Tahapan Recoverynya

Artikel Lainnya Seputar Lari

April 22, 2026