Perjalanan Yuza bukan perjalanan pelari yang mengejar panggung, tetapi perjalanan seseorang yang ingin berkembang lewat proses. Dari rasa sakit karena salah sepatu hingga akhirnya menyelesaikan virgin marathon, kisahnya mengingatkan bahwa ketenangan juga bisa menghasilkan pencapaian besar. Simak kisahnya di Profil Alyuza Satrio Prayogo kali ini!
Dari Arena Bela Diri ke Trek Lari

Yuza berasal dari Tulungagung. Ia bukan pendatang baru di dunia olahraga, yakni sebagai mantan atlet Taekwondo, pernah menjadi certified fitness coach, dan gemar hampir semua aktivitas fisik dari renang hingga badminton. Meski kini disibukkan dengan dunia kerjanya, namun disiplin latihannya tetap terjaga. “Pulang kerja selalu aku sempetin buat latihan, entah untuk peningkatan massa otot atau endurance,” katanya.
Pertemuannya dengan dunia lari terjadi pada Surabaya Marathon 2018, ketika sang kakak mengajaknya ikut kategori 10K. Dengan percaya diri sebagai atlet bela diri, ia menganggap lari tidak membutuhkan persiapan khusus.
Saat hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ia berlari dengan apa adanya, bahkan mengenakan sepatu kuliah, bukan sepatu lari. Hasilnya? Ujung jari penuh darah mampet, kaki lecet, dan betis hingga pinggul linu keesokan harinya. Sakit, iya. Kapok? Tidak!
Setelah vakum beberapa tahun, Yuza kembali pada Agustus 2023. Tidak hanya kembali. ia pulang dengan tantangan baru. Salah satunya adalah menyelesaikan full marathon (FM) dalam satu tahun. Tak hanya isapan jempol belaka, target itu pun benar-benar diwujudkannya di event Maybank Marathon 2024.
Baca juga: 7 Gerakan Pemanasan Sebelum Lari Agar Terhindar dari Cedera!
Taklukkan Diri di Maybank Marathon 2024

Jika Surabaya Marathon 2018 adalah pelajaran keras, maka Maybank Marathon 2024 adalah momentum kemenangan pribadi. “Euforianya nggak bisa diungkap dengan kata-kata,” ujarnya. Bali memberikan suasana yang berbeda dari tempat latihannya.
Tanjakan yang mantap, cuaca yang hangat, dan pertemuan dengan banyak pelari dari berbagai kota membuatnya berlari penuh senyum hingga garis finish. Itulah virgin marathon yang tak akan ia lupakan.
Seiring waktu, makna lari bagi Yuza juga berubah. Dari sekadar olahraga untuk kesehatan, pelan tapi pasti berubah menjadi gaya hidup. Ia tidak berlari untuk dipuji. Bahkan kini ia lebih suka berlari diam-diam, tanpa unggahan Strava atau media sosial. “Lebih enjoy dan lebih private,” katanya.
Prestasi bukan target utama, tapi pernah sekali ia mencoba mengejar personal best 5K dan finish di 26:15. Selebihnya, ia berlari untuk menikmati, bersenang-senang, dan merayakan setiap event yang ia ikuti.
Baca juga: Mengenal Maybank Marathon: Pilihan Wajib Penggemar Lari Marathon
Jangan Buat Tubuh Kaget Saat Lari

Menurut Yuza, hal terpenting bagi pelari pemula adalah jangan membuat tubuh kaget. Lari bukan tentang seberapa cepat seseorang mampu melesat di awal, tetapi tentang kesabaran dalam membangun fondasi.
Ia selalu mengingatkan bahwa pemilihan sepatu yang tepat menjadi langkah dasar yang tidak boleh diabaikan, pelajaran berharga dari pengalamannya tahun 2018 ketika salah sepatu berakhir dengan cedera kecil yang menyakitkan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memulai dengan easy run, tanpa memaksakan diri untuk langsung berlari kencang karena risiko cedera justru meningkat ketika tubuh dipaksa melampaui kapasitasnya.
Yuza juga melihat banyak pelari baru yang mengabaikan latihan beban, padahal penguatan otot merupakan bagian penting dalam mencegah cedera dan menjaga performa tetap stabil. Bagi Yuza, konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih berharga daripada ambisi besar yang memaksa tubuh, sebuah prinsip yang ia jalani sendiri dalam kesehariannya.
