Nama dan profil Shizo Kanakuri punya tempat yang unik dalam sejarah marathon dunia. Pelari asal Jepang ini tercatat membutuhkan waktu 54 tahun, 8 bulan, 6 hari, 5 jam, 32 menit, dan 20,3 detik untuk menuntaskan marathon Olimpiade Stockholm 1912. Catatan tersebut bahkan dikenal sebagai waktu penyelesaian marathon paling lama dalam sejarah. Mengapa hal itu bisa terjadi dan apa yang melatarbelakanginya? Simak selengkapnya dalam ulasan kali ini!
Shizo Kanakuri dan Perjalanannya dalam Dunia Lari

Shizo Kanakuri lahir pada 20 Agustus 1891 di Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang. Hubungannya dengan dunia lari dimulai bahkan sebelum ia mengenal kompetisi. Ketika masih bersekolah, Kanakuri terbiasa menempuh perjalanan sekitar empat mil atau lebih dari enam kilometer menuju sekolah dengan berlari setiap hari. Kebiasaan sederhana tersebut perlahan membentuk kemampuan lari jarak jauhnya.
Kemampuannya semakin berkembang ketika Kanakuri bersekolah di Tokyo Higher Normal School. Menjelang Olimpiade Stockholm 1912, Jepang menggelar seleksi untuk mencari atlet yang akan mewakili negara tersebut. Dalam uji coba marathon pada 1911, Kanakuri mencatatkan waktu sekitar 2 jam 32 menit 45 detik. Catatan tersebut sempat dianggap sebagai rekor dunia, meskipun belakangan diketahui lintasannya hanya sekitar 40 kilometer, lebih pendek dari standar marathon saat ini.
Prestasi tersebut membuka jalan menuju panggung yang jauh lebih besar. Bersama pelari 400 meter Yahiko Mishima, Kanakuri menjadi bagian dari kontingen pertama Jepang yang berlaga di Olimpiade modern. Untuk negara yang saat itu baru mulai membangun tradisi olahraga internasional, keberangkatan mereka ke Stockholm membawa harapan besar.
Baca juga: Profil Ruy Ueda: Ultrarunner Si Kaki Besi dari Negeri Sakura
Dua Pekan Perjalanan ke Stockholm Demi Olimpiade

Persiapan menuju Olimpiade pada 1912 tentu tidak semudah yang dialami atlet profesional sekarang. Untuk mencapai Swedia, Kanakuri harus menempuh perjalanan sekitar 17 hari menggunakan jalur Trans Siberia. Selama perjalanan panjang tersebut, kesempatan untuk menjaga program latihan sangat terbatas. Ia hanya dapat melakukan latihan singkat ketika kereta berhenti di beberapa stasiun.
Setibanya di Stockholm, tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Makanan Eropa yang asing baginya juga menyebabkan masalah pencernaan. Situasi menjadi semakin sulit karena manajer tim Jepang, Hyozo Omori, jatuh sakit dan Kanakuri ikut membantu merawatnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beradaptasi dan mempersiapkan perlombaan pun berkurang.
Puncak tantangan datang saat marathon digelar. Suhu pada hari perlombaan mencapai sekitar 32 derajat Celsius, kondisi yang berat untuk perlombaan jarak jauh pada masa tersebut. Dari 68 pelari yang memulai marathon, hanya 34 yang berhasil mencapai garis finis. Bahkan pelari Portugal Francisco Lázaro kolaps saat lomba dan meninggal dunia keesokan harinya.
Kanakuri sendiri memulai lomba dengan perlengkapan yang sangat berbeda dari pelari marathon modern. Sebagaimana dikutip dari Runner’s World, ia menggunakan sepatu tabi tradisional dengan sol berbahan kanvas. Ditambah kondisi lintasan berkerikil, cuaca panas, dan tubuh yang belum pulih dari perjalanan panjang, marathon Stockholm berkembang menjadi ujian yang jauh lebih berat dari perkiraannya.
Baca juga: Profil Emil Zátopek: Pelopor Interval Training yang Mengubah Dunia Lari
Mengapa Kanakuri Butuh 54 Tahun untuk Menyelesaikan Marathonnya?

Kanakuri akhirnya tidak mampu melanjutkan perlombaan. Setelah menempuh sekitar 25 kilometer, ia keluar dari jalur dan mendapat pertolongan dari sebuah keluarga Swedia. Sejumlah versi mengenai kejadian tersebut berbeda, tetapi keluarga Petra disebut memberinya minuman, makanan, pakaian, serta tempat untuk beristirahat hingga ia pun tertidur. Kanakuri tidak pernah kembali ke perlombaan pada hari itu.
Hal yang menjadi masalah lagi adalah ia tak memberi tahu petugas lomba bahwa dirinya telah berhenti. Kanakuri kemudian meninggalkan Swedia dan kembali ke Jepang. Bagi penyelenggara di Stockholm, mereka beranggapan bahwa seorang peserta asal Jepang tiba tiba tidak diketahui keberadaannya. Dari situlah muncul cerita bahwa Kanakuri “menghilang” di tengah race.
Padahal, Kanakuri sama sekali tidak menghilang selama 54 tahun. Ia menjalani kehidupan normal di Jepang dan tetap menjalani aktivitasnya sebagai pelari. Olimpiade Berlin 1916 yang ia persiapkan batal akibat Perang Dunia I. Empat tahun kemudian, Kanakuri tampil di Olimpiade Antwerp 1920 dan berhasil finis di posisi ke 16. Ia kembali berlomba di Olimpiade Paris 1924, meskipun tidak menyelesaikan marathon.
Cerita Stockholm kembali mendapat perhatian menjelang peringatan Olimpiade 1912. Pada 1967, Kanakuri yang sudah berusia 75 tahun diundang kembali ke Swedia. Ia kemudian menyelesaikan perlombaan tersebut secara simbolis dengan melintasi garis finis. Waktunya diumumkan sebagai 54 tahun, 8 bulan, 6 hari, 5 jam, 32 menit, dan 20,3 detik.
Hal ini juga memperjelas persepsi yang selama ini tersebar di masyarakat, ia tidak benar-benar berlari marathon selama 54 tahun. Catatan tersebut merupakan rentang waktu antara start marathon Olimpiade 1912 dan momen ketika ia akhirnya kembali untuk menyelesaikannya pada 1967.
Baca juga: Profil Kelvin Kiptum: Calon Raja Marathon Dunia yang Pergi Terlalu Cepat
Dikenang Sebagai Bapak Marathon Jepang

Jika hanya melihat kisah Stockholm, Kanakuri mungkin mudah dikenang sebagai tokoh unik dalam sejarah Olimpiade. Namun, kontribusinya terhadap dunia lari Jepang jauh lebih besar. Setelah melewati pengalaman pahit pada 1912, ia tetap melanjutkan olahraga yang telah membawanya ke panggung internasional dan kemudian ikut memperluas kesempatan bagi generasi pelari setelahnya.
Salah satu warisan terbesarnya adalah Hakone Ekiden, perlombaan estafet antar universitas yang pertama kali digelar pada 1920. Ajang tersebut dirancang untuk membantu mengembangkan pelari jarak jauh Jepang dan mencari atlet yang berpotensi bersaing di level Olimpiade. Lebih dari satu abad kemudian, Hakone Ekiden tetap menjadi salah satu ajang lari paling populer di Negeri Sakura.
World Athletics menyebutkan bahwa profil Shizo Kanakuri menjadi sosok penting di balik tumbuhnya kecintaan masyarakat Jepang terhadap lari jarak jauh. Ia juga terlibat dalam pengembangan sejumlah kompetisi marathon serta mendorong semakin banyak anak muda untuk mengenal olahraga tersebut. Perannya membuat Kanakuri kemudian dikenal sebagai ‘Father of the Marathon in Japan’ atau Bapak Marathon Jepang.
Ia tutup usia pada 13 November 1983 di Tamana, Prefektur Kumamoto, Jepang, pada usia 92 tahun. Meski telah tiada, pengaruhnya masih terasa melalui perkembangan marathon dan ekiden di Jepang yang hingga kini menjadi salah satu ajang lari paling populer di negara tersebut.
Sumber: World Athletics, Runner’s World, National Geographic
