sc: JETE
sc: X (@trairuy)

Profil Ruy Ueda: Ultrarunner Si Kaki Besi dari Negeri Sakura

by Editor Jadwal Lari  - August 7, 2026

sc: X (@trairuy)

Apa yang membuat seorang pelari mampu naik-turun Gunung Fuji empat kali dalam waktu kurang dari 10 jam? Dalam artikel tentang profil Ruy Ueda ini kita akan menemukan jawabannya lewat perjalanan panjang seorang atlet Jepang yang membangun karier dari dunia atletik, beralih ke trail running, lalu berkembang menjadi pelari ultra yang diperhitungkan di panggung internasional.

Dari Sepakbola ke Ultrarunner

Profil Ruy Ueda - Dari Sepakbola ke Ultrarunner
sc: RedBull

Perjalanan Ruy Ueda di dunia ultrarunning berawal dari Nagano, Jepang, wilayah yang dikelilingi pegunungan. Saat masih kecil, ia bermain sepak bola sebelum mulai menekuni atletik pada usia 13 tahun. Ketika SMA, Ueda bergabung dengan Saku Chosei High School dan dipercaya menjadi kapten tim atletik. Namun, perjalanan sebagai pelari jarak jauh tidak selalu mulus karena ia beberapa kali mengalami cedera.

Saat kuliah dan masuk di Waseda University, bergabung dengan klub atletik. Tepat pada usia 19 tahun, ia mengikuti Tokyo Shibamata 100K sebagai pengalaman baru. Di luar dugaan, Ueda mampu finis kelima dengan catatan sekitar 8 jam 15 menit, sebuah hasil yang kemudian membuka jalannya menuju dunia trail running.

Ketertarikannya terhadap lari gunung semakin kuat setelah mendapat perhatian dari Columbia Sportswear Japan. Ueda kemudian mengikuti event bergengsi Japan Mountain Endurance Race atau Hasetsune Cup. Pada penampilan pertamanya ia finish keenam, tetapi setahun kemudian berhasil menjadi juara sekaligus memecahkan rekor lintasan.

Sejak saat itu, Ueda mulai membangun reputasi sebagai pelari yang tidak hanya mampu menempuh jarak panjang, tetapi juga bergerak cepat di medan dengan elevasi ekstrem. Perpaduan daya tahan, kecepatan, dan kemampuan beradaptasi dengan medan pegunungan kemudian menjadi ciri khas yang membawanya ke berbagai kompetisi internasional.

Baca juga: Profil Courtney Dauwalter: Guru Sains yang Menjelma Jadi Ratu Ultramarathon

Catatan Prestasi Ruy Ueda

Profil Ruy Ueda - FI
sc: RXL

Perjalanan Ruy Ueda di dunia trail run tidak berhenti pada satu pencapaian. Dari lintasan trail di Jepang hingga kompetisi internasional, ia terus mengumpulkan hasil yang menunjukkan konsistensi sekaligus kemampuan beradaptasi di berbagai medan. Berikut sejumlah catatan prestasi penting yang membentuk perjalanan kariernya:

  • 2014: menjadi pemenang termuda Japan Mountain Endurance Race (Hasetsune Cup) sekaligus memecahkan rekor lintasan.
  • 2016: menjuarai Gorge Waterfalls 100K di Amerika Serikat dengan waktu 9 jam 09 menit 37 detik, sekaligus mencetak rekor lomba.
  • 2016: finish runner-up CCC UTMB sejauh sekitar 101 km dengan waktu 12 jam 15 menit 20 detik.
  • 2019: menjadi pelari Asia pertama yang menempati posisi teratas klasemen akhir Skyrunner World Series.
  • 2021: meraih medali emas Vertical Kilometer pada Skyrunning World Championships di Spanyol, serta emas nomor Combined dan perunggu SkyMarathon.
  • 2022: finish peringkat ketiga Marathon du Mont-Blanc 42K dengan catatan waktu 4 jam 40 menit 42 detik.
  • 2022: mencetak Guinness World Record setelah menaklukkan empat jalur utama Gunung Fuji naik-turun dalam 9 jam 55 menit 41 detik.
  • 2023: menjuarai KOSCI100 Ultra-Trail Kosciuszko by UTMB sejauh 105,9 km dengan waktu 9 jam 49 menit 28 detik.

Baca juga: Profil Kilian Jornet: Superman dari Catalonia Penakluk Trail Run

Pecahkan Rekor Dunia, Taklukkan Gunung Fuji

Profil Ruy Ueda - Pecahkan Rekor Dunia
sc: RedBull

Pencapaian rekor Ruy Ueda paling mengagumkan terjadi pada 13 Juli 2022 melalui proyek yang dikenal sebagai Mt. Fuji in One Stroke. Tantangannya adalah menyelesaikan empat jalur utama Gunung Fuji yakni Fujinomiya, Gotemba, Subashiri, dan Yoshida dengan konsep naik ke puncak, turun kembali, lalu melanjutkan ke jalur berikutnya.

Dalam satu rangkaian tersebut, Ueda menempuh jarak sekitar 57,06 kilometer dengan total elevasi mencapai 6.772 meter. Ia memulai perjalanan dari Fujinomiya Trailhead sekitar pukul 04.51 pagi, kemudian melewati Gotemba, Subashiri, dan Yoshida sebelum menyelesaikan putaran terakhir dan kembali turun melalui Fujinomiya.

Ueda akhirnya mencapai garis finish dengan waktu 9 jam 55 menit 41 detik. Catatan tersebut memangkas hampir dua jam dari rekor sebelumnya dan membuatnya tercatat sebagai Guinness World Record untuk penyelesaian tercepat empat jalur utama Gunung Fuji dalam satu rangkaian.

Kecepatan tersebut juga menjadi capaian luar biasa karena puncak Fuji berada di ketinggian 3.776 meter, dengan kondisi oksigen yang jauh lebih rendah dibandingkan permukaan laut. Tak heran dengan prestasi sekaligus rekor yang dipecahkannya itu, ia kemudian dijuluki Si Kaki Besi karena ketangguhan dan ketahanan yang dimiliki.

Baca juga: Profil Hugo Farias: Pria Brasil yang Lari Marathon 366 Hari dan Pecahkan Rekor Dunia

Pola Latihan yang Keras

Profil Ruy Ueda - Pola Latihan yang Keras
sc: Gear Junkie

Di balik performanya yang luar biasa, Ueda memiliki pola latihan cukup keras. Dalam sebuah wawancara, ia menyebut menjalani latihan sekitar 15 jam per minggu dengan jarak lari sebagai patokan sekitar 100 kilometer. Jumlah tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan masa SMA ketika ia dapat menempuh 500–600 kilometer dalam sebulan.

Pengalaman mengalami cedera membuatnya semakin memperhatikan pola latihannya. Sejak saat itu, ia berusaha menjaga volume latihan pada tingkat yang dapat dipertahankan tubuh tanpa terus-menerus mengalami masalah fisik. Namun, pengurangan volume tersebut bukan berarti mengurangi kualitas latihan. Intensitas dan efisiensi gerakan tetap menjadi bagian penting dalam programnya.

Ueda juga memperhatikan aspek teknik dan kekuatan tubuh. Ia pernah menjalani personal training secara rutin serta menggunakan pendekatan yang membagi gerakan lari menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian diperbaiki. Fondasi tersebut berasal dari pengalaman latihan atletik sejak sekolah, terutama latihan sprint yang membantunya memahami efisiensi gerakan saat berlari.

Khusus untuk proyek pemecahan rekor di Gunung Fuji, persiapan dilakukan secara lebih spesifik dengan berlatih di kawasan pegunungan Eropa untuk membiasakan tubuh menghadapi kondisi ketinggian. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa performa ultrarunning bukan hanya soal menambah kilometer, tetapi juga bagaimana seorang pelari mengelola teknik, kekuatan, intensitas, pemulihan, serta kemampuan tubuh beradaptasi dengan medan dan ketinggian.

 

Sumber:  RedBull, Running Insight, Goldwin

Road Running vs Trail Running, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?

Artikel Lainnya Seputar Lari

August 6, 2026

August 3, 2026

July 31, 2026

July 31, 2026