Nama Eliud Kipchoge dalam dunia lari tentu sudah tidak asing lagi, terlebih lagi untuk lari jarak jauh atau marathon. Namun, siapa sangka di balik prestasinya yang memukau ada rahasia perjalanan hidup inspiratif dari sebuah desa kecil di Kenya. Simak profil Eliud Kipchoge selengkapnya dalam ulasan kali ini, runners!
Sempat Berhenti Sekolah dan Jualan Susu

Kipchoge adalah anak bungsu dari empat saudara dengan latar belakang ibunya sebagai seorang guru, sementara sang ayah meninggal ketika ia masih bayi. Ia lahir pada tanggal 5 November 1984 di sebuah desa kecil di Kapsisiywa, Nandi County, Kenya.
Perjalanan hidup Kipchoge memang tak selalu berjalan mulus. Sebagaimana dikutip dari The New York Times, seperti bocah pada umumnya, ia setiap hari lari kecil menuju sekolah. Alasannya klasik, karena tidak ada kendaraan untuk anak kecil di desa yang khusus untuk anak-anak sekolah saat itu di desanya.
Selepas lulus sekolah dasar, ia sempat tidak lanjut ke jenjang lebih tinggi dan berhenti sekolah. Hari-harinya diisi dengan menjual susu di pasar yang ia kumpulkan dari tetangganya. Suatu hari, saat bekerja dia semakin terpacu dan bersemangat untuk berlari dalam kesehariannya.
Hal itu terjadi setelah desanya kedatangan pelari yang meraih perak Olimpiade, Patrick Sang dan menginisiasi kegiatan lari di desa tersebut. Kipchoge pertama kali bertemu dengan sang pelari marathon legendaris ini di tahun 2001 dan usia Kipchoge saat itu di angka 16 tahun.
Dari berbagai gelaran lomba yang diselenggarakan Sang, Kipchoge selalu memenangkan pertandingan. Inilah yang membuatnya tertarik dan bertanya, berapa kecepatan yang bisa ditaklukkan dan ditempuh, Kipchoge hanya menjawab jika ia tidak pernah memperhatikan hal itu. Sang memberinya Timex dan mulai saat itu keduanya mulai rutin latihan bersama dan mengubah perjalanan hidup sang pelari.
Baca juga: Daftar Pelari Maraton Tercepat di Dunia dan Catatan Rekornya
Lari Ratusan Kilometer Per Minggu

Bagi Kipchoge, disiplin adalah fondasi utama kesuksesannya. Dalam wawancaranya dengan CNN Sports, ia menegaskan bahwa disiplin berarti merelakan kesenangan pribadi demi tujuan jangka panjang. Selama lebih dari 22 tahun, ia selalu bangun pukul 05.45 pagi tanpa jeda.
Hampir setiap hari pula ia habiskan waktu di kamp latihan yang sederhana dan penuh pengorbanan. Kamp latihannya bersama Global Sports Communication memang jauh dari kesan mewah. Fasilitas yang dimilikinya pun minim dan hanya terdapat ruang kecil untuk beristirahat para pelari.
Tak sampai di situ, konsistensi dalam berlari ini dijaga dengan baik. Setiap minggu, ia setidaknya menempuh jarak total 200-220 kilometer dengan latihan lari di jalan maupun lari berkelompok dengan atlet lainnya. Semua proses latihan tersebut tentu diawasi dengan ketat oleh coach Patrick Sang.
Latihan fisik memang penting, namun di kamp latihan menjaga pola makan dan hidup sehat jauh lebih penting. Kipchoge terbiasa dengan gaya hidup sederhana soal pola makan sehat khas Kenya. Hal itu bisa dilihat dari konsumsi makanan tradisional seperti ugali, yakni tepung jagung yang dimasak dengan air sampai mengental dan bertekstur padat seperti bubur.
Sementara itu, untuk proses recovery pasca lari jarak jauh ia pun melakukan hal yang sederhana. Misalnya saja dengan mandi dengan es untuk merelaksasi diri. Lalu, dilanjutkan dengan pijat, makan siang, dan tidur siang yang cukup.
Baca juga: Alasan Abbott World Marathon Majors Jadi Mimpi Tertinggi Pelari Dunia
Catatan Rekor Eliud Kipchoge di Marathon Dunia

Kipchoge memiliki sebuah keyakinan setiap kali memasuki jalur marathon saat perlombaan. Seperti dikutip dari Runner’s World, baginya ada ambisi besar yang membayanginya untuk memecahkan rekor dunia. Ambisi itulah yang membuat dirinya terlihat dominan di ajang marathon dunia, khususnya di setiap seri Abbott World Marathon Majors.
Sejak debutnya dengan kemenangan di Berlin Marathon 2013, ia terus mencatat hasil terbaik dan beberapa kali keluar sebagai juara keseluruhan dari World Marathon Majors. Catatan rekor terbaiknya ia torehkan untuk lari marathon 42,195 kilometer di bawah dua jam dengan waktu 1:59:40 pada proyek INEOS tahun 2019.
Catatan rekor lainnya dalam ajang resmi marathon terjadi di Berlin Marathon 2022 dengan torehan waktu terbaik di 2:01:09. Hal itu juga yang membuatnya dinobatkan sebagai pelari tercepat dalam sejarah kompetisi marathon sebelum rekor itu tepecahkan oleh Kelvin Kiptum pada Chicago Marathon 2023. Sekaligus memecahkan rekor yang telah dibuatnya sendiri di event yang sama tahun 2018 lalu.
Selain di ajang marathon bergengsi dunia, Kipchoge juga menorehkan prestasi lainnya dengan meraih dua medali emas marathon Olimpiade pada Rio 2016 dengan catatan waktu 2:08:44 dan Tokyo 2020 yang mencatatkan finish di 2:08:38.
Selama menggeluti dunia lari, Kipchoge memiliki filosofi sederhana namun bermakna cukup mendalam yakni “No Human Is Limited”. Menurut dirinya, batas manusia selalu bisa dilampaui dengan keyakinan, kerja keras, dan konsistensi. Tiga hal terakhir itulah yang mengantarkannya pula menjadi inpsirasi bagi para runners di seluruh dunia. Khususnya untuk yang ingin menaklukkan waktu terbaiknya di marathon.
